Tempat Sampah

10:11 PM

Kalau berfilosofi soal nasib, 24/7 itu seakan tidak cukup. Apalagi bagi seorang tempat sampah, setengah dari 24/7 mu itu isinya filosofi nasib orang lain. Lalu kamu jadinya ikut berfilosofi soal nasib orang lain. Kamu filsufnya, dia muridnya.

Lewat dialektika bercampur emosi, satu ketenangan lahir. Itu kalau beruntung. Kadang, satu sesi dialektika hanya berujung pada kebuntuan. Sedikit-sedikit muridmu itu bertanya, "Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Padahal kamu belum pernah mengalaminya. Tapi apa yang kamu bilang ada benarnya sih."

Wahai tuan/puan, anggap saja dia tempat sampah, yang nyambi jadi dekomposer.



Photo credit: standard.co.uk

You Might Also Like

0 comments