Curahan Hati Pemakai Kacamata

11:03 PM

Semua ini bermula dari sebuah kacamata. Kalau dirunut-runut, kacamata itu sudah melengkapi hidup saya selama, well, sebelas tahun. Saya ingat persis pertama kali pakai kacamata itu kelas dua SMA dengan keluhan minus satu di masing-masing mata. Kalau dingat-ingat lagi, selama sebelas tahun itu, saya sudah mengganti kacamata kira-kira sebanyak tujuh kali. Biasa, keseringan patah terinjak. Dari ketujuh kacamata itu, yang paling lama bertahan adalah kacamata yang baru saya ganti (yang itu lah pokoknya). Bayangin, dua tahun sembilan bulan kami bertahan. Dan sekarang kondisi fisiknya juga masih oke. Alasan ganti kacamata karena mata saya yang kian rapuh dan butuh lensa yang lebih menguatkan daya pandang (ini apa banget bahasanya).

Lalu sebenarnya poin dari postingan ini apa?

Guys, terutama kalian yang lebih memilih menggunakan kacamata dibandingkan contact lens, apakah kalian merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan selama ini? Perasaan yang selalu menghantui pemakai kacamata di mana pun dan kapan pun segagang kacamata bertengger di wajah pemakainya. Perasaan yang hanya kita, pemakai kacamata, yang tahu. Iya, perasaan itu. Saya beberkan ya, biar kita tidak saling menebak-nebak dalam bisu layar kaca komputer.


Berperang Melawan Uap

Bagi kita yang jarang melepaskan bingkai kacamata dari wajah, uap ini musuh terbesar banget tidak sih? Saya selalu punya masalah dengan ini. Misalnya pas mengenakan masker. Kalau lagi pakai masker kan setengah muka kita tertutup ya, termasuk hidung. Lalu karbondioksida yang biasa dihembuskan tanpa hambatan, tetiba harus tertahan kain masker. Otomatis hembusan napas itu terlepas ke bagian atas, mengarah ke kacamata. Nah kalau sudah seperti ini, dua lensa kacamata itu jadi blur karena terkena uap napas sendiri. Ini kalau lagi naik motor atau sekadar jalan jadi sangat mengganggu.

Makanya, saya seringkali tidak menutup bagian hidung saya dengan masker agar uap napas tidak membuat lensa berembun. Kadang kalau dipikir-pikir, percuma juga pakai masker tapi tidak menutupi bagian hidung. Atau, kadang saya mengakalinya dengan memakai masker secara rapat terlebih dahulu sebelum memakai kacamata. Cara ini cukup mengurangi uap yang tertimbun di kacamata. Saya suka senyum-senyum sendiri kalau bertemu orang berkacamata dan memakai masker yang tidak menutupi hidungnya. Ah, orang ini punya problem yang sama dengan saya ternyata, hahaha.

Masalah uap itu juga sering muncul pas makan makanan berkuah. Are you with me, glasses ladies and gents? Cobalah makan indomie rebus, bakso, soto ayam, dan sebagainya. Di suapan pertama, uap langsung mengepul di lensa, tidak peduli semahal apa lensa yang dipakai. Lensa sudah seperti terkena efek bokeh. Kalau lensanya UV protected, biasanya uapnya hilang dalam waktu dua detik. Masalah datang lagi ketika kacamatanya suka terkena cipratan kuah makanan. Belum lagi kalau makanannya pedas dan membuat peluh keringat dan air mata keluar begitu saja. Imbasnya mata jadi berkaca-kaca dan membahasi kacamata. Kombinasi uap dan air mata ini yang ganggu banget. Alhasil, setiap mau makan tuh pasti lepas kacamata dulu, baru bisa makan dengan tenang. Walaupun...memandang teman makannya jadi buram. Haah, tapi hidup itu pilihan kan ya.


Berperang Melawan Air Hujan

Nah ini. Sampai saat ini saya belum menemukan solusinya. Kalau sedang berada di area terbuka dan hujan, saya hanya bisa pasrah. Rasanya tuh apa ya...seperti melihat kaca depan mobil yang diguyur air hujan dan penyeka kacanya (windscreen wiper) mati. Parahnya kalau lagi mengendarai sepeda atau motor. Sambil pegang setir, saya suka mengkhayal kapan ya kacamata ada windscreen wipernya.

Di situasi seperti itu, saya dihadapkan dua pilihan. Kalau pakai kacamata, pandangan jelas walaupun terhalang air hujan di lensa. Kalau lepas kacamata, dunia menjadi buram. Kalau dunia buram, keselamatan pun terancam. Jadi mending tetap pakai kacamata ketika mengendarai, sambil sesekali menyeka lensa secara manual. Hiks.


Berperang Melawan Air Mata

Ini sub judulnya apa banget ya, tapi itulah yang saya rasakan. Kalau lagi menonton film yang mengubek-ubek isi hati, menangis itu menjadi sebuah keniscayaan. Kalau menontonnya tanpa bantuan kacamata sih enak ya, sekali menangis, langsung usap. Sekali berkaca-kaca, langsung usap. Nah kalau menontonnya pakai bantuan kacamata, ini cukup mengganggu kekhidmatan dalam menonton, sob.

Mata berkaca-kaca, maka pandangan jadi blur. Air mata keluar, pandangan tambah blur. Mau usap, buka kacamata dulu. Kalau males buka kacamata, itu air mata nempel di lensa. Menonton pun tak lagi khidmat. Jadi kalau satu film isinya menguras hati dari awal sampai akhir, bisa dibayangkan seberapa tinggi frekuensi nangis-buka kacamata-usap airmata selama film diputar.


Ketika Garis Miring Hidungmu Kurang Dari 45 Derajat

Ini perjuangan banget. Seperti yang kalian tahu, kacamata itu rata-rata diproduksi untuk hidung dengan garis kemiringan 45 derajat atau semancung hidungnya Chris Evans. Dengan garis kemiringan seperti itu, bingkai kacamata akan kokoh bertengger. Bagaimana dengan hidung dengan garis kemiringan di bawah 45 derajat? The struggle is real, pals.

Bisa dikatakan, garis miring hidung saya itu sekitar 30 derajat. Dengan garis miring yang landai ini, bingkai kacamata sering merosot. Apalagi kalau kacamatanya tidak seerat yang seharusnya. Maksudnya, tidak pas banget di wajah. Lima menit sekali pasti bingkai kacamata merosot, macam profesor-profesor itu. Kalau sudah merosot begitu, kadang saya harus mendongakkan wajah untuk melihat atau menaikkan bingkainya ke posisi semula. Pernah waktu menunduk, kacamata jatuh begitu saja. Memang kacamatanya juga sih yang sudah kendor, ahahaa.

Alhamdulillah, kacamata saya sekarang begitu memahami kontur garis miring hidung dan wajah saya. Pas banget, sob. Mau menunduk sambil jungkir balik juga InsyaAllah masih bertengger di wajah.


Rindu Mata Normal

Ada momen-momen di mana saya melakukan kegiatan tanpa kacamata, entah itu ketika memasak, menonton, atau pun berjalan di sekitar perumahan. Dunia tanpa kacamata itu sungguh blur. Ketika melihat-lihat beberapa tempat di sekitar rumah, saya suka mengingat-ingat kembali bagaimana belasan tahun lalu tempat itu begitu jelas dipandang. Tanpa kacamata, semuanya begitu jelas. Atau misalnya ketika kuliah. Saat itu minus mata masih terbilang kecil. Menatap layar komputer tidak perlu memakai kacamata. Hanya ketika untuk melihat papan tulis saja, baru kacamata itu digunakan.

Kalau sedang berkenang ria seperti itu, jadi rindu punya mata normal. Nikmat sehat yang paripurna memang baru dihargai ketika kita sudah tidak memiliki itu lagi ya. But overall, it's good knowing my eyes still work just fine, regardless the myopia. Satu hal yang patut disyukuri, bukan?

You Might Also Like

0 comments