Mengeksplorasi Pendidikan di Pulau Tidung

10:40 AM

Sebuah Perkenalan




Tidung! Tepat sebulan saya pulang dari pulau yang dari namanya saja mengingatkan saya pada putri duyung. Entah apa hubungannya juga.

Pertama kali saya ke pulau ini adalah tahun 2011. Saat itu hanya murni menjadi turis lokal. Sementara bulan lalu, saya menjadi pengajar dalam rangka persiapan UN tingkat SMA tahun 2016. Program bimbingan persiapan UN tersebut merupakan program CSR salah satu BUMN terkemuka di Indonesia. Tawaran mengajar ini saya terima dengan senang hati. Siapa yang tidak penasaran dengan kondisi pendidikan di pulau seberang yang status administrasinya masih berpayung pada DKI Jakarta?

Total pengajar yang ikut serta dalam program ini sekitar 27 orang yang disebar ke tiga pulau: Pulau Tidung, Pulau Pramuka, dan Pulau Harapan. Kami berangkat ke tiga pulau tersebut di Minggu pagi, tanggal 20 Maret 2016, dengan menaiki kapal kayu tradisional di pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Untuk Pulau Tidung, total pengajar adalah 6 orang dan dialokasikan untuk dua sekolah di sana, yaitu SMKN 61 dan MA PKU.

Di pelabuhan Kali Adem, saya bertemu dengan kelima pengajar lainnya yang akan mengajar di Tidung. Pertama kali saya bertemu dengan Cepo, Rifka, dan Ka Shandra yang sedang asyik mengobrol. Sebagai anak yang sok asik, saya dekati mereka dan berkenalan. Curang sebenarnya, karena mereka sudah saling kenal, sedangkan saya, si anak baru, mesti berkenalan dan mengeluarkan jurus pencitraan newbie dulu. Yang menyenangkan adalah mereka sanguinis, well, salah satu dari mereka adalah raja manusia sanguin sehingga saya tidak perlu pencitraan lama-lama, hahahaa...

Di kapal, kami bertemu dengan dua pengajar lainnya yaitu Tebe dan Fikri yang nempel mulu kayak perangko. Asumsi saya waktu itu, mereka memang sudah saling kenal dan mungkin melihat kami berempat yang berisik, mereka agak sungkan untuk bergabung. Asumsi saya berikutnya: mereka sedang melakukan pencitraan newbie.

Bahagia itu adalah ketika kau mempunyai teman seperjalanan yang memiliki satu misi: delivering fun education, taking unlimited selfies/wefies, and liberating our wanderlust. Jadilah selama tiga jam mengarungi lautan, kami berfoto dengan gaya yang tidak karuan. Bahkan setelah sampai di penginapan dan disambut hujan, kami kekeuh untuk mengelilingi Tidung. Ya tapi makan siang dulu sih sambil nunggu hujan reda, ehehee..

Siang hingga petang kala itu kami habiskan untuk menjelajahi bagian timur Pulau Tidung, termasuk Pulau Tidung Kecil. Kami ke sana naik sepeda dan diparkirkan di dekat Jembatan Cinta. Tak jauh dari parkiran, terdapat SMKN 61 Pulau Tidung tempat Cepo, Fikri, dan Kak Shandra akan mengajar. Nah, dari parkiran sanalah kami berjalan menyeberangi Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung dengan Pulau Tidung Kecil. "Lima tahun lamanya saya tidak ke sini, banyak perubahan terjadi, termasuk si Love Bridge ini," batin saya kala itu.

Jembatan tersebut sudah diperbaiki lebih baik. Sayangnya, kondisi air di sekitar tersebut sudah semakin keruh dibandingkan tahun 2011 lalu. Terumbu karang pun sudah memudar warnanya. Mati. Saat memasuki Pulau Tidung Kecil, udara semakin lembab. Selain itu, pesisir pantai pun terlihat kotor dan kurang terurus. Tahun 2011 lalu, saya hanya sempat bermain-main di daerah pesisir tersebut sambil menikmati terbitnya matahari pagi. Lagipula saat itu kami tidak memiliki waktu yang banyak untuk menjelajahi si Tidung Kecil. Berhubung di program mengajar ini kami memiliki waktu yang cukup lama, kenapa tidak sekalian saja mengelilingi pulau kecil itu? So there we went.

Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni dan dipenuhi beberapa jenis vegetasi yang kurang saya kenal. Walaupun demikian, infrastruktur jalannya sudah rapi beraspal batu. Kira-kira lebarnya 100 cm kali ya. Semakin berjalan, kami menemukan beberapa kawasan budidaya mangrove dan buah naga. Ada juga beberapa kantor administrasi yang mengurusi kegiatan budidaya tanaman, perikanan, dan kelautan. Selain itu, kami juga menemukan museum yang menampilkan kerangka ikan paus. Museumnya hanya seukuran 70 meter, yah kurang lebih sepanjang kerangka ikan paus tersebut. Sayangnya saat itu museum ditutup, jadi kami tidak bisa melihat si paus lebih dekat dan pegang-pengang deh.

Kami kira, museum tersebut sudah berada di ujung Pulau Tidung Kecil. Ternyata masih ada ujungnya lagi. Penasaran mau tahu di mana ujung pulau ini, tapi kok rasanya kaki makin pegal dan suasana makin spooky thrilling gimana gitu. Jadi teringat cerita And Then There Were No One nya Agatha Christy. Ditambah lagi, Tebe dan Fikri cerita bahwa di dekat sana ada makam keramat. Ya elah, bro!

Memang dasarnya anak muda ya, rasa penasaran mengalahkan rasa pegal dan ngeri yang ada. Disisipi senda gurau menggelitik serta sesi wefies berkelanjutan, kami berhasil sampai ke ujung (yang ternyata hanya begitu saja pemandangannya) dan berputar lewat jalan pintas hingga kembali ke tempat awal kami memulai perjalanan. Lelah, Jenderal, tapi asyik.

Kami selanjutnya menikmati sisa sore di foodcourt sekitar Jembatan Cinta. Sore, pantai, musik reggae. Apa yang pantas untuk melengkapi itu semua? Yup, kelapa muda! Kami menikmati sebutir kelapa muda utuh sambil mengobrol dan (lagi-lagi) wefies. Di tahap ini, hilanglah sudah segala pencitraan newbie kami. Akrab dan rusuh! Saya senang hari itu kami sudah mengenal lebih akrab antara satu dengan lainnya. Terlebih lagi, setelah itu kami berkenalan dengan koordinator kegiatan acara di Pulau Tidung, Lingga, beserta 20 murid MA PKU yang saat itu sedang bermain di penginapan Lingga. Mereka manis-manis banget! Semua ini merupakan awal yang sangat baik sebelum memulai kegiatan mencerdaskan anak bangsa (tsailah) keesokan harinya. 


Ilmu yang Sepi Peminat

MA PKU Pulau Tidung
Mendapat jadwal mengajar di hari Rabu ketika semua teman pengajar memulai tugasnya di hari Senin amatlah kurang asik. Mau tidak mau saya harus jadi kuncen di dua hari pertama. Padahal sehari sebelumnya, saya sudah semangat banget untuk mengajar. Tapi setidaknya beberapa dari mereka hanya mengajar setengah hari, jadi saya tidak sendirian banget di penginapan.

Selama dua hari tanpa mengajar, saya banyak menyimak kisah-kisah yang dilontarkan teman-teman saya yang mengajar di dua sekolah di sana. Kisah mereka menarik sekali dan saya tidak tahan untuk tidak menceritakannya kembali di sini.

Di hari pertama mengajar, keluhan datang dari salah satu teman yang mengajar di SMKN 61. Ia bercerita, sulit sekali untuk menciptakan suasana yang kondusif selama mengadakan pretest di salah satu kelas. Menurutnya, seluruh murid di kelas tersebut tidak menganggap bahwa pretest tersebut layaknya sebuah ujian nasional. Mereka dengan santainya dan lantangnya menanyakan teman yang lain mengenai jawaban-jawaban dari soal yang diberikan. Teman saya terkejut melihat keadaan tersebut mengingat hal itu tak pernah terjadi di sekolah tempat ia mengajar. Ia pun lantas menasehati mereka dengan tegas bahwa kegiatan pretest tersebut hanyalah untuk mengukur tingkat pemahaman mereka terhadap materi UN. Oleh karena itu, diharapkan mereka mengerjakannya dengan tertib dan tidak bertanya. Ia juga melanjutkan dengan nasehat lainnya seperti menggunakan kesempatan bimbingan belajar terebut dengan sebaik-baiknya agar mereka mampu mendapatkan nilai UN yang memuaskan.

Saya tidak begitu terkejut mendengar ceritanya karena sebelum keberangkatan, saya sudah mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik murid-murid di sana. Baik murid MA PKU dan SMKN 61 kurang memiliki gairah belajar maupun daya saing. Namun demikian, saya diberitahu bahwa murid-murid MA PKU lebih mudah untuk dimotivasi dibandingkan murid lainnya di SMKN 61. Hal ini lalu dibuktikan oleh kedua teman saya yang sudah duluan mengajar di MA PKU. Sementara teman saya yang lain, yang mengajar di SMKN 61, pernah ditinggal kabur sekelas di hari kedua ia mengajar di sana.

Dua hari pertama, kami memang masih beradaptasi dengan kondisi KBM di sana sambil menyusun strategi jitu mengenai bagaimana meningkatkan semangat belajar murid-murid di dua sekolah tersebut. Selama dua hari itu juga, murid-murid belum ada yang berdatangan untuk berkonsultasi mengenai materi-materi UN. Padahal, sebelumnya kami sudah mengajak mereka untuk datang ke penginapan kami apabila mereka ingin bertanya mengenai materi UN yang belum mereka pahami. Bila di Jakarta kami banjir pelanggan, di sana kami sepi pelanggan.

Di hari pertama saya mengajar di sana, wajah malu-malu para murid menyambut saya. Tiga jam mengajar mereka sangat tidak membebani. Kami bahkan menggunakan satu jam pelajaran untuk belajar di saung tepi pantai. Selama satu jam itu, saya bertanya-tanya seputar materi UN yang belum mereka pahami hingga beberapa hal tentang mereka yang membuat saya penasaran.

"Yang belum paham? Banyak, Kak. Hampir semuanya malah. Apalagi bahasa Inggris, cara ngomongnya aja susah," celetuk salah satu murid.

Seperti yang diketahui sebelumnya, Pulau Tidung termasuk dalam wilayah administrasi DKI Jakarta. Dengan fakta ini, sebagian besar dari kami berasumsi bahwa kondisi pendidikan di sana tidak jauh berbeda dengan kondisi pendidikan di daratan Jakarta, termasuk perihal kemampuan belajar para muridnya. Namun demikian, apa yang kami temukan di lapangan amatlah berbeda. Mayoritas murid di sana belum memahami 80% materi UN, terutama matematika dan bahasa Inggris. Hal inilah yang membuat beberapa teman saya terkejut melihat kondisi mereka yang dalam waktu seminggu akan menghadapi UN.

Kok bisa? Memangnya di sana tidak ada lembaga bimbingan belajar untuk membantu mereka memahami materi UN?

Bimbingan belajar? Apa itu bimbingan belajar? Istilah tersebut amatlah asing bagi warga setempat. Lagipula, mana ada lembaga bimbingan belajar yang mau membuka cabang di sana? Ribet dan kurang menguntungkan.

Tapi kan kalau tidak ada bimbel, mereka bisa beli buku bank soal UN dan berlatih melalui buku itu?

Selama seminggu mengeksplorasi Tidung, saya belum menemukan toko buku maupun perpustakaan umum di sana. Kalaupun mau membeli buku tersebut, mereka harus ke daratan atau menitip saudara/kerabat mereka yang akan ke daratan. Saya juga kurang bertanya lebih jauh soal hal ini.

Lalu bagaimana dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri? Apa mereka seantusias murid-murid di Jakarta?

Sebelumnya, mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri bukanlah prioritas mereka. Melihat contoh soal-soalnya, memahami sistem gradingnya dan pentingnya studi lanjutan saja mereka belum, bagaimana mau berminat untuk meneruskan? Di samping itu, adanya jaminan sumber daya alam (perikanan dan kelautan) di sana yang dapat mereka jadikan mata pencaharian, membuat mereka urung untuk bersusah-payah ke luar pulau untuk melakukan studi lanjutan. Oleh karena itu, sebelum kedatangan kami ke sana, beberapa tim psikologi sebelumnya didatangkan ke sana untuk memberikan motivasi kepada mereka. Alhamdulillah, setelahnya mereka memiliki semangat yang tinggi meningkatkan taraf hidup yang lebih baik (baik melalui studi lanjutan maupun mengikuti kursus-kursus yang dapat meningkatkan skill mereka).

Seperti kebanyakan karakter pelajar di Indonesia, para murid di sana juga kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat. Paradigma "takut salah" sebelum memberi jawaban atau pendapat masih bercokol di dalam benak mereka. Butuh beberapa kali bujukan dan rayuan agar mereka mau berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Satu yang saya tanamkan kepada mereka, "Keluarkanlah segala macam pendapat kalian. Salah itu wajar karena kita semua adalah pembelajar. Dan jika kakak menanyakan suatu materi pada kalian, itu artinya kakak benar-benar ingin tahu pendapat/pemahaman kalian mengenai materi itu, bukan kata-kata si buku yang saklek dan boring. Buat kakak, argumen kalian itu lebih menarik. Okay?"

Hasilnya? Menyenangkan sekali bahwa keesokan harinya mereka semangat maju ke depan menjawab pertanyaan atau ceriwis nanya sampai diri ini lemas dibuatnya.

Suatu ketika saya pernah iseng bertanya mengapa mereka tidak begitu kepo pada pelajaran, apalagi UN sudah di depan mata. Sederhana sebenarnya, mereka tidak begitu mengerti mengapa mereka harus mempelajari materi itu. Gunanya apa? Mereka juga menganggap bahwa semua materi itu sulit untuk dipahami. Sulit adalah kata yang telah mereka asah menjadi belati yang mampu memutuskan keingintahuan mereka pada ilmu. Saya paham sekali akan hal ini. Hampir semua pembelajar pernah mengasah belati kemunduran mereka sendiri. Satu murid bahkan berkata bahwa kurangnya daya saing antarmurid di lingkungan tersebut membuatnya kurang bersemangat dalam memperdalam ilmu. Mendengarnya berpendapat seperti itu, saya jadi memikirkan kembali sebuah opini pakar pendidikan mengenai pendidikan yang sudah seperti kompetisi di sirkuit balap dan dianggap membebani anak. Apakah opini tersebut benar-benar berlaku bagi murid saya yang mengeluhkan betapa minimnya kompetisi yang ada? Menarik ya.

Berbeda halnya dengan murid-murid MA, para murid SMK lebih menekankan pada minimnya motivasi dari lingkungan sekolah dan keluarga. Salah satu teman saya yang mengajar di sana mengatakan bahwa para murid kurang begitu bersemangat datang ke sekolah. Menurut mereka, tingginya tingkat absensi para guru membuat mereka malas untuk hadir ke sekolah. Saya kurang mengetahui apakah pernyataan mereka ini valid atau tidak mengingat saya tidak mengajar di sana atau bertindak sebagai tim independen yang bertugas untuk memantau jalannya sekolah. Jika dilihat dari perilaku dan penampilan mereka di kelas, opini yang terbentuk dalam benak teman-teman saya kala itu adalah kurangnya kedisplinan atau tegasnya peraturan di sana. Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Jakarta pada umumnya, cukup jauh. Bahkan saya sempat mendengar bahwa kadaan SMK di pulau lain (misal, Pramuka), kadar ketidaksplinannya melebihi di Tidung. Sementara dari faktor keluarga, bisa dikatakan sebagian besar dari mereka memiliki masalah keluarga yang cukup pelik (kita semua punya masalah, bukan?) sehingga dukungan secara psikis pun minim didapat. Tokoh panutan, saya rasa mereka juga kekurangan itu. Atau mungkin sudah ada yang patut dicontoh namun mereka memilih untuk tidak mencontoh.

Bagaimana dengan murid-murid MA? Seperti yang saya bilang sebelumnya, mereka mudah disemangati dan diajak maju. Kali pertama saya masuk ke kelas, saya sempat khawatir kalau saya akan ditinggal kabur seperti teman saya. Ketika memindai wajah-wajah mereka, sekilas saya menilai bahwa beberapa di antara mereka adalah bengal karena wajahnya mengatakan seperti itu. Parah ya, ckck. Padahal ya, pemilik wajah-wajah bengal itu ternyata manis banget, manis secara perilaku. Lucu pula. Kalau diibaratkan, bagai domba berbulu serigala. Saya bersyukur sekali bisa mengajar mereka. Apalagi ketika disalimi mereka. Bukan salim a la anak Jakarta yang biasanya salim pipi. Mereka menggunakan salim hidung; bentuk salim yang tulus menurut saya.

Beragam Kisah Unik Para Murid

Bersama Teman Pengajar dan Murid MA PKU Pulau Tidung 2016
Ada sebuah stereotip yang sangat melekat pada pikirian para remaja di sana (mungkin orang tua juga). Saya menamakannya Stereotip Putih Abu. Jadi ya, karakter kalian sebagai remaja ditentukan dari di mana kalian bersekolah: MA atau SMK. Di Pulau tidung, sekolah tingkat SMA hanya ada dua buah yaitu MA PKU dan SMKN 61. Stereotip anak MA secara umum adalah kalem, penurut, tidak banyak gaya, dan lebih peduli pada pelajaran. Secara khusus, stereotip ini terbagi dua: stereotip siswa MA dan stereotip siswi MA. 

Siswa MA dikenal lebih cool, tampan, dan pintar. Sementara siswi MA dikenal kucel dan tidak gaul. Nah stereotip yang ini dibuat oleh para siswi SMKN 61. Maka dari itu banyak siswi SMKN 61 yang mengincar atau menggebet siswa MA PKU.

Sementara itu, stereotip anak SMKN 61 secara umum adalah bengal, susah diatur, banyak gaya, dan kurang peduli pada pendidikan. Secara khusus, stereotip dibagi lagi berdasarkan jenis kelamin. Streotip siswa SMKN 61 adalah tampan dan gaul, sedangkan stereotip siswi SMKN 61 adalah centil, ceriwis, dan banyak gaya. Stereotip ini dibuat oleh para siswi MA PKU.

Jadi konon ceritanya, para siswa SMKN 61 terkadang menggebet beberapa siswi MA PKU. Nah, para siswi MA PKU pun lebih memilih menggebet siswa SMKN 61 yang dinilai lebih tampan daripada teman sekelasnya. Di lain pihak, para siswi SMKN 61 juga lebih memilih para siswa MA PKU daripada teman lelaki di sekolah mereka. Rupanya keinginan mereka disambut oleh para siswa MA yang juga lebih memilih siswi SMKN 61 yang dinilai lebih modis. Lucu ya.

Nah tapi kawan-kawan, ternyata dua kubu ini tidak terlalu akur, semacam ada perang dingin. Ketidakakuran tersebut berlaku bagi dua kubu dengan jenis kelamin yang sama. Misalnya, para siswa SMK tidak akur dengan para siswa MA. Begitu juga dengan para siswi di dua kubu. Yang menariknya lagi, dengan kekuatan bulan, kami bisa menyatukan mereka. Tidak kami sih, hanya salah satu teman kami yang kecantikannya bisa menyatukan para jejaka di kedua kubu, hahaha...

Beberapa karakter yang unik pun saya temukan di kelas MA. Misalnya ada seorang murid perempuan yang mengaku bahwa ia sangat lemah terhadap matematika. Ketika dia bilang lemah, ternyata memang benar lemah secara literal. Kala itu teman saya sedang mengajar matematika. Di tengah jalan, murid tersebut pusing dan mual lalu muntah. Ketika ditanya kenapa, ternyata karena dia terlalu pusing memikirkan apa yang dijelaskan teman saya. Mendengar ini saya jadi tertawa sendiri...sambil ditahan ketawanya.

Lalu ada juga murid yang hobinya menyanyi dangdut. Ini ditemukan baik di MA maupun SMK. Ketika diajak dengar musik di ponsel androidnya dan main tebak-tebakan itu lagu apa, saya langsung mengibarkan bendera putih.

Cita-cita mereka juga tak kalah menarik. Beberapa ingin menjadi camat, polisi, penari, guru, dosen, dan ada juga yang ingin langsung menikah. 

Sebenarnya masih banyak hal unik pada diri mereka yang saya temukan ketika kami bermain bersama di berbagai kesempatan. Mereka sangat menyenangkan.


Malam Perpisahan

Karaoke House, Pulau Tidung
Mau tau tempat hangout paling kece seantero Tidung? Ya Karaoke House ala pantai lah. Saya lupa nama kafenya apa, tapi itu tidak jauh dari SMKN 61 dan Jembatan Cinta. Di malam terakhir kami di sana, anak SMK dan MA mengajak kami untuk menikmati acara barbeque. Saya kira cuma sampai sini saja ya karena sudah pukul 22.00 juga dan kami masih harus merekap nilai Try Out mereka.

Ternyata oh ternyata, the night is still young, baby. Kami selanjutnya diajak ke Karaoke House lokal tersebut. Bagaimana suasananya? Mirip tempat karaoke di Pantura lah.Dan lagi, lagu yang diputar adalah full dangdut.  Saat itu saya langsung merasa menjadi anak gaul Tidung. 

Hingar bingar beraktir pukul 12.30. Itu bagi mereka, tidak bagi kami. Kami, para pengajar, masih harus menjalani the night is still young, baby (part 2). Yup, nilai harus segera diserahkan pada koordinator demi kemashalatan banyak orang. Sambil terkantuk-kantuk, kami meringis melihat hasil try out mereka. Di sepertiga malam, harapan terpanjat; semoga mereka dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Semoga adik-adik kami ini selalu mampu menemukan ilmu dari setiap hikmah pembelajaran. Begitu pula dengan kami. 

Murid-Murid Manis MA PKU Pulau Tidung
Murid-Murid Manis SMKN 61 Pulau Tidung

You Might Also Like

0 comments