Eureka!

9:43 PM

Hari ini saya bertemu salah seorang kawan lama dan mengobrol banyak hal dengannya. Saya lebih banyak bertanya dan menyimak ceritanya. Di saat dia bertanya kabar saya, saya jawab dengan singkat dan lanjut melemparkan pertanyaan-pertanyaan lagi kepadanya.

Bisa dibilang pola pikir kami sehari-harinya begitu berbeda dan saya lebih memilih mengikuti arusnya dalam bercerita. Entah mengapa saya begitu menikmati untuk menyimak sebuah kisah. Kisahnya sederhana namun saya menangkap realitas lain yang ada di masyarakat. Suatu realitas yang belum pernah saya temukan sebelumnya, memahami suatu alasan mengapa seseorang bisa bersikap K misalnya.

Sepulangnya saya dari pertemuan itu, cerita si teman terngiang-ngiang di otak saya. Lalu saya menyadari sesuatu dan anehnya saya langsung menuliskan hal tersebut di Path. Entah apa yang mendorong saya untuk menuliskannya di Path, biasanya saya hanya menulis suatu kontemplasi di jurnal pribadi atau blog. Saya kira moment yang saya tulis tersebut akan dihiraukan atau tenggelam begitu saja di Path, karena aseli deh, random banget dan muter-muter ahahaah.. Tapi ternyata ada juga yang love dan smile. Alhamdulillah ada yang memahami hehee.. Memang apa yang ditulis ya? Ini nih. Jangan lupa nafas ya bacanya.

Ketika kau berbaur lalu lompat dari satu komunitas ke komunitas lainnya, dari satu keluarga ke keluarga lainnya, dan dari satu individu ke individu lainnya, sementara kau lebih sering menyimak daripada berbicara, di akhir perjumpaan kau akan merasa bahwa kau sejatinya selalu berada di tengah-tengah. Kau tidak pernah teratas atau terbawah. Tidak pernah terbenar atau tersalah. Tidak pernah terbaik atau terburuk. Tidak pernah benar-benar bahagia atau benar-benar nelangsa. Tidak pernah paling hebat atau paling pecundang. Tidak pernah begitu serius atau begitu absurd. Tidak pernah mutlak A atau mutlak Z. Lalu berada di tengah-tengah seperti itu membuat kau tertawa karena akhirnya menyadari bahwa begitu banyak nikmat dan hikmah yang bisa kau ambil dari posisi ini. Seperti berada di tengah pertemuan arus kurashio (arus air panas) dan arus oyashio (arus air dingin) yang penuh dengan ikan dan plankton.

Tidak perlu khawatir, saya sehat mental jiwa raga. Saya hanya begitu senang karena menyadari satu hal, seperti Archimedes yang begitu kegirangan menemukan hukum Archimedes saat berendam. Dan lalu lari telanjang begitu saja sambil teriak Eureka!

Kalau kamu, apa yang belakangan ini kamu sadari atau temukan?

You Might Also Like

2 comments

  1. Saya selalu berada di tengah-tengah mba, baik di lingkungan maupun keadaan. And i feel so safe that way, untill Dan brown quoted Dante in his book "The hottest places in hell are reserved for those who, in times of great moral crisis, maintain their neutrality."

    It hits me like a rock.

    Salam kenal juga :)

    ReplyDelete
  2. Ah Nadya, thanks for visiting back. The quote, it hits me too! Si inferno, jurnal berkedok novel hahaa.. Ya, menurutku Dan Brown benar banget soal itu. Bahkan mereka yang netral sebenarnya tidak memiliki tempat di akhirat (dengan asumsi baik = surga, jahat = neraka). Kasian ga tuh hahah..

    Kata-kataku di postingan ini memang sekilas menampakkan soal keberpihakan (ya, netral, tidak). Tapi sebenarnya bukan tentang itu. Ini soal tingkat keadaan individu.

    Ini seperti A yang merasa dirinya paling baik dalam bersikap, misalnya, sehingga apa-apa yang beda darinya kemungkinan besar/pastilah buruk. Ketika ia berjumpa dengan komunitas/keluarga/individu lain dan menyimak segala kisah mereka, ia menyadari bahwa dalam beberapa hal, ia bukanlah yang terbaik seperti yang ia kira. Mereka lebih baik darinya. Ya, si A satu tingkat di bawah mereka dan itu mengurangi rasa sombong yang ada pada dirinya. Karena itu A merasa perlu belajar dari mereka; dia bukanlah yang ter-.

    Pada saat yang sama, si A merasa bahwa dirinya adalah manusia paling nelangsa di muka bumi, misalnya. Namun setelah (lagi-lagi) mendengarkan kisah yang lain, dia sadar bahwa dia bukanlah yang ter-nelangsa. Ternyata ada yang lebih nelangsa dari dia. Dan ironinya, dari hal itu barulah ia bisa bersyukur dan belajar.

    Mau sepositif atau senegatif apa pun keadaan/sifat si A, dia tidak pernah menjadi yang ter-. Keadaan tengah-tengah seperti itu yang aku maksud. Keadaan yang mampu menekan keangkuhan dan kekufuran seseorang. Di sisi lain, keadaan/posisi itu juga bisa membantu seseorang tersebut mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Keadaan ini sebenarnya bisa saja berlaku bagi semua orang, tergantung individu itu menempatkan dirinya di level mana.

    Yah begitulah yang aku rasakan saat itu (lah curcol), Mungkin sudah banyak juga yang berpendapat seperti itu, tapi aku baru paham sekarang. Rasanya seperti mendapatkan keseimbangan.

    Oh iya, anw, keep posting ya, nanti aku blogwalk lagi :)

    ReplyDelete