Booky-Booky

11:47 PM

Salam kangen untuk blog ini!

Dua bulan. Yeap, hampir dua bulan absen ngeblog. Ada permintaan khusus dari otak saya yang mengharuskan saya cuti ngeblog. Biasa, haus imajinasi. Jadi, selama itu pula saya memborong dan mengkonsumsi bacaan fiksi. Semuanya bacaan lama sih, mulai dari yang sepuh banget seperti Kisah 1001 Malam, sampai yang era 2000an ke atas seperti Zahir, Trilogi The Hunger Games, dan The Cuckoo's Calling.

Benar saja, semua buku itu bikin mata saya kalap dan imajinasi meluap-luap. Well, semuanya kecuali Zahir sih. Saya kira Zahir itu novel kriminal yang ada unsur petualangannya karena ketika membaca sinopsisnya di toko buku, saya mendapat kesan seperti itu. Pas dibaca, kisahnya lebih ke spritual dan filosofi. Tidak heran sih, penulisnya Paulo Coelho. Pikiran saya saja yang waktu itu sedang random, yang penasaran seperti apa novel kriminal ala Paulo Coelho (padahal sejak kapan Coelho menulis novel kriminal?). Ceritanya tidak terlalu menarik, juga tidak terlalu membosankan. Tidak terlalu menarik karena dengan kurang semangat saya menghabiskannya hampir tiga minggu (untuk novel 437 halaman, ini termasuk lelet). Tidak terlalu membosankan karena ada beberapa kalimat yang membuat pembacanya merenung. Kalian tahulah, khas Paulo Coelho. 

Setelah membaca Zahir saya langsung membaca Trilogi The Hunger Games hanya karena sebelumnya saya membaca artikel mengenai proses pembuatan film Mockingjay di entah website apa. Spontanitas ini didukung oleh niat saya berbulan-bulan lalu yang terlupakan-- niat untuk membaca semua buku THG karena filmnya, walaupun kata Sekar itu oke banget, memangkas detail-detail dan membuat saya terus bertanya-tanya ketika filmnya diputar. Setelah membaca 20 halaman pertama THG, gaya menulis Suzanne Collins langsung membuat saya trans; saya merasa menjadi Katniss Everdeen, si gadis yang berapi-api, yah walaupun di tengah cerita ego saya dan ego Katniss saling beradu karena 70% sifat saya berbeda dengan Katniss (hoelah). Inilah buku yang membuat mata saya kalap sekalap-kalapnya setelah Harry Potter. Mata terasa berat banget untuk lepas dari bacaan dan hal ini membuat ayah saya benar-benar jengkel karena merasa diabaikan (sorry Paps). Beneran deh, semakin saya menyelami hati Katniss yang labil, semakin saya suka dan sebal sama Katniss dalam waktu yang bersamaan. Suka karena disayangi oleh dua pria kece, sebal karena keputusannya yang berbeda dengan keputusan saya (ini terjadi di satu titik di mana saya menganggap diri sendiri sebagai Katniss, sebuah efek samping yang gagal saya antisipasi). Kadang saya berpikir, kok bisa saya jadi ikutan labil ala gadis usia 17 tahunan. Mungkin perasaan labil itu dapat dimaklumi jika saya membacanya ketika baru masuk kuliah, waktu yang pas ketika novel ini diterbitkan. Bukan di usia saya yang sekarang ini *sadar umur*. Tapi ini salah satu kehebatan penulisnya bukan? Dia mampu membuat pembacanya menjadi bagian dari Katniss (bahkan penerjemah novel inipun, yang usianya lumayan jauh di atas saya, merasa begitu ketika membacanya).

Well, masih dengan persaaan manis getir usai membaca trilogi THG, saya langsung cuss ke Kisah 1001 malam. Lagi, saya spontan ingin membaca ini karena saya sebelumnya (entah kapan dan bagaimana, kemungkinan besar sih pas browsing ebook) membaca tulisan One Thousand and One Nights di sebuah website. Satu-satunya kisah seribu satu malam yang saya ketahui adalah Aladin dan lampu ajaib. Itu juga karena pernah menonton filmnya versi Disney. Ketika saya membaca kisahnya, ada perbedaan yang jelas antara versi buku dan versi animasinya. Kisah 1001 Malam bisa dikatakan sebuah dongeng, bukan dongeng anak-anak melainkan dongeng dewasa. Dongeng ini cukup unik karena ada kisah di dalam kisah.  Semakin saya membaca, saya seperti menguliti bawang sampai tak ada lagi lapisan yang tersisa. Inti dari Kisah 1001 Malam hanya satu; usaha seorang pengantin baru, Scheherazade, agar tidak dihukum mati oleh suaminya, Raja Shahryar. Jadi ceritanya Raja Sharyar ini kecewa berat dengan istri lamanya karena diselingkuhi habis-habisan. Istri lamanya dihukum mati olehnya. Sejak saat itu, sang raja sangat sedih dan menganggap semua wanita sama saja. Dia lalu setiap harinya menikahi seorang gadis dari kerajaannya, lalu menghukum mati gadis tersebut keesokan harinya. Hal ini membuat Scheherazade, putri adipati raja yang sangat cerdas, gerang. Untuk menghentikan kebiasaan barbar sang raja, Sheherazade meminta ayahnya untuk menikahkannya dengan sang raja. Dengan berat hati, ayahnya menyetujui hal ini. Nah setiap satu jam sebelum subuh, Scheherazade selalu menceritakan kisah-kisah yang menarik ke sang raja sehingga membuat raja penasaran dan membiarkan Scheherazade tetap hidup sampai ia menyelesaikan kisahnya. Dan ketika Scheherazade bercerita, ia juga membuat tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut bercerita seakan-akan ceritanya beranak-pinak. Salah satu ceritanya adalah Aladin dan Lampu Ajaib. tapi tentu saja berbeda dengan versi Disney. Menurut saya, walaupun saya belum selesai membaca buku tersebut, kisah-kisah di Kisah 1001 Malam sarat dengan nilai yang ditujukan untuk orang-orang dewasa. Coba deh kalian sempatkan waktu untuk membaca kisah-kisahnya. Sederhana, berisi, dan menghibur.

Kisah 1001 malam saya jeda sejenak demi membaca The Cuckoo's Calling. Niat untuk membaca novel ini baru datang belakangan ini karena tahun lalu saya masih menimbang-nimbang untuk membacanya, khawatir jika J.K. Rowling mengecewakan imajinasi saya. Agak susah memang melepaskan J.K. Rowling dari Harry Potter. Saya ingat betul ketika saya agak kecewa membaca sinopsis novel muggle pertamanya J.K. Rowling, The Casual Vacancy. Novel itu sepertinya mengupas isu-isu sosial di suatu daerah di Inggris. Saya masih berharap Rowling menulis novel fantasi atau sci-fi. Setelah lama tak mendengar tentang novel terbaru Rowling, saya membaca artikel tentang identitas Rowling yang terkuak di novel muggle-nya yang kedua yang ditulis dengan nama pena Robert Galbraith. Saya lalu penasaran dong tentang novel terbarunya (dan masih berharap itu fantasi atau sci-fi). Ternyata...The Cuckoo's Calling adalah novel kriminal. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah Rowling benar-benar ingin menguasai genre fiksi; fantasi, isu sosial, dan kini kriminal. Saya lumayan tertarik ketika membaca sinopsisnya tapi belum begitu niat untuk membacanya. 

Tapi akhirnya dibaca juga ahahahahah...

Setelah membaca novelnya, dugaan pertama saya adalah Rowling seorang Holmesian. Cara ia mempertemukan sang tokoh utama, Cormoran Strike, dengan sekretaris, Robin Ellacott, yang saya yakin kelak menjadi tangan kanannya, sama seperti cara Sir Doyle mempertemukan Holmes dengan Dr. Watson. Dilatarbelakangi dengan krisis finansial sang detektif, mereka bertemu. Bedanya, jika Holmes dan Dr. Watson dipertemukan sebagai kawan satu flat, Cormoran dan Robin dipertemukan sebagai bos dan sekretaris. Metode deteksi yang dipakai Cormoran juga mirip seperti yang digunakan Holmes, walaupun saya akui skill Holmes masih di atas skill Cormoran. 

Ada yang unik di novel ini. Ternyata Rowling masih belum lepas dengan Harry Potter. Masih ada undur-unsur Harry Potter dalam novel kriminalnya. Setelah membaca The Cuckoo's Calling, saya menebak-nebak apakah novel ini berseri karena akhir ceritanya mengisyaratkan begitu. Penasaran, saya pun googling. Dan yeap, benar bahwa itu novel serial. Rowling berencana membuat kisah Cormoran Strike menjadi tujuh seri. Tujuh! Sama seperti ia menjadikan kisah Harry Potter menjadi tujuh seri. Lalu yang membuat saya tersenyum-senyum adalah, masih ada sosok Hermione di serial Cormoran Strike. Dia menjelma menjadi sosok Robin Ellacott, sekretaris muda berusia dua puluh lima tahun yang cantik dan cerdas.

Well, saya rasa Rowling mempersembahkan serial ini mungkin bagi fans Harry Potter, yang seiring berjalannya waktu, semakin beranjak dewasa. Dengan gaya menulisnya yang disesuaikan dengan target pembacanya, Rowling masih memberi kami petualangan yang menarik. Hah, ga sabar rasanya menunggu serial keduanya yang akan rilis Juni nanti, The Silkworm.



p.s. Buku apa yang kalian baca akhir-akhir ini?



You Might Also Like

0 comments