Napak Tilas: Imajinasi vs Realitas

9:33 PM

Baru-baru ini saya menapak tilas beberapa peristiwa dalam hidup saya. Tidak sampai menyusuri Jalur Sutra atau menjinakkan Himalaya seperti yang dilakukan para penapak tilas (yang dalam dua dekade terakhir ini sedang menjadi tren), tapi cukup melakukan yang sudah-sudah: duduk sore, seduh kopi, dan memandang langit-- menilik memori-memori masa lalu yang tersimpan di awan. Pada suatu lamunan, saya mensortir folder Masih Menjadi Mimpi Dan Harapan dan Mimpi Dan Harapan Yang Terwujud lalu membandingkannya. Di folder Masih Menjadi Mimpi Dan Harapan, saya dapati bagaimana imajinasi mendominasi isi folder tersebut. Setiap peristiwa yang saya harapkan/impikan untuk terjadi, terselip imajinasi yang luar biasa berlebihannya, seperti sebuah aplikasi yang memori cache-nya lebih besar daripada memori aplikasi itu sendiri. Ketika saya membuka folder Mimpi Dan Harapan Yang Terwujud, hilang sudah cache imajinasi tersebut. Yang tersisa hanyalah dokumen peristiwa pencapaian dengan realitas apa adanya.

Bahagiakah saya dengan seluruh peristiwa di folder Mimpi Dan Harapan Yang Terwujud? Ya pasti dong. Sungguh nikmat yang tiada tara ketika sebuah mimpi terwujud.

Apakah saya merasa kehilangan ketika cache imajinasi yang terselip di beberapa dokumen peristiwa di folder Masih Menjadi Mimpi Dan Harapan terhapus begitu saja ketika mereka bermigrasi ke folder Mimpi Dan Harapan Yang Terwujud? Umm yah sedikit merasa kehilangan lah ya.
"I believe that imagination is stronger than knowledge. That dreams are more powerful than facts. That hopes always triumps over experience." - Robert Fulghum
Indeed, dudes, indeed. Masukkan mereka dalam sistem kasta, maka imajinasi adalah kasta Brahmana sedangkan realitas adalah Sudra. Letakkan mereka dalam dunia majas, maka imajinasi adalah hiperbola ketika realitas adalah rangkaian kata denotatif. Posisikan mereka dalam pangkat militer, maka imajinasi adalah kaptennya sedangkan realitas adalah prajuritnya. Ilmuwan, sastrawan, budayawan, dan -wan -wan yang lain pun kompak setuju bahwa imajinasi adalah fondasi dalam mewujudkan realitas. Imagine rules. Saya, yang bukan apa-apa, juga setuju. Yang saya sayangkan, mengapa bumbu lebay khas buatan imajinasi lenyap ketika angan dan harapan terwujud menjadi kenyataan. Seperti bongkahan meteor yang perlahan terkikis oleh berbagai macam lapisan pelindung Bumi sebelum akhirnya ia jatuh ke Bumi dengan menyisakan serpihan inti. Atau seperti bayi yang harus berpisah dengan ari-arinya ketika ia lahir. Dunia memisahkan imajinasi dan realitas.

Hasil napak tilas bulanan saya menjadi alasan mengapa saya bisa berkesimpulan seperti itu. Setiap impian yang terwujud merupakan saringan kenyataan minus imajinasi lebay. Misalnya saja, ketika lulus ujian masuk SMP impian, saya senang bukan main. Namun kehidupan siswa SMP yang sebenarnya jauh dari yang saya bayangkan. Seperti inilah kira-kira gambarannya:

Impian + imajinasi: Lulus ujian masuk SMP favorit sekacamatan. Banyak bersenang-senang, punya guru-guru yang muda dan modis, bebas pakai kaus kaki sebetis, pakai rok seukuran pas dengkul, dan pakai sepatu model apa saja dengan warna apa saja (semuanya adalah imajinasi hasil menonton sinetron-sinetron abege di awal 2000an).

Kenyataan: Impian terwujud: saya diterima oleh SMP favorit tersebut. Imajinasi lenyap: Banyak belajar, tidak ada guru-guru muda yang modis, tidak ada kaus kaki sebetis, tidak ada rok pas dengkul, tidak ada sepatu model macam-macam dan warna macam-macam. Yang ada hanyalah kaus kaki setengah betis, rok seukuran di bawah dengkul, sepatu hitam putih dan bertali putih merk NB (ini bukan New Balance ya, tapi sepatu KW 3 nya Converse. Beberapa anak memakai Converse berjenis sama).

Lalu pola peristiwa serupa juga terjadi di setiap masa di mana impian saya terwujud dan rasa penasaran saya terbayarkan. Namun sekali lagi, minus imajinasi lebay. Puncaknya adalah ketika saya kursus musim panas di Utrecht, Belanda. Tak dielakkan, mimpi terbesar saya-- yang saya tanam sejak SMA-- adalah mencicipi sistem pendidikan di Eropa atau Amerika, sesingkat apapun waktunya. Dan seperti yang sudah-sudah, pola tersebut terjadi lagi.

Impian + imajinasi: studi di Eropa (terutama Eropa Barat), jalan-jalan, mendengarkan British Songs ketika berjalan kaki di trotoar atau duduk di bis sambil memandang hujan atau salju, bertemu pria Indonesia yang kebetulan sedang menjalankan misi yang sama, menjalin cinta ala kisah di novel chicklit dan film romantis.

Kenyataan: Impian terwujud: studi di Eropa dan jalan-jalan. Imajinasi lenyap: tidak ada British songs (sibuk melihat pemandangan), tidak ada salju (ya iyalah, ke sana pas musim panas), tidak ada kebetulan bertemu pria Indonesia beserta romansa ala novel chicklit dan film romantis (duh).

Sampai saat ini, posisi imajinasi dalam hidup saya masih lebih tinggi daripada realitas. It can do everything reality can't. Seindah apapun realitas yang terwujud dari sebuah impian dan imajinasi, ia tetap belum bisa membawa keindahan, kepuasan, dan kesempurnaan hakiki dari sebuah imajinasi.

Dan sampai saat ini, saya masih menanti suatu masa di mana keindahan realitas mampu mengalahkan dan membungkam keindahan imajinasi yang saya ciptakan. Lagi, saya simpan angan ini di awan dan akan mengunduhnya ketika waktunya tiba.

You Might Also Like

0 comments