Amsterdam dan Paris: Sebuah Perjalanan Solo

11:58 PM

Hari itu saya memulai perjalanan solo kembali. Tujuan kali ini adalah Amsterdam dan Paris. Kostan Yoga dan kawan-kawan sudah kosong ditinggalkan para penghuninya ke kampus. Selembar kertas yang sudah dipenuhi dengan kata-kata perpisahan dan terima kasih saya taruh di atas meja makan dan berharap mereka membacanya. Ditemani gerimis, saya berangkat ke Utrecht CS menuju Amsterdam Bijlmer Arena untuk check-in di hostel yang telah dipesan jauh-jauh hari.


Saya dan Amsterdam

Ugh. Ternyata saya baru bisa check-in pukul dua siang sedangkan saat itu masih pukul setengah sebelas. Akhirnya saya menitipkan koper saya di hostel dan berkeliling pusat Amsterdam dengan membawa tas punggung yang lumayan berat karena berisi laptop, kamera, dan lain-lain. Untuk ke Amsterdam CS, saya perlu naik metro nomor 54. Sayangnya, saat itu jalur metro sedang dalam perbaikan sehingga saya harus turun di Amsterdam Amstel dan lanjut naik bis nomor 59 menuju Amsterdam CS. Cemunguuuudh!!

Yak setelah lima belas menit naik metro dan bis akhirnya sampai juga di CS. Amsterdam lebih berpolusi daripada Breukelen, namun pemandangan yang disuguhkan berbeda. Di Breukelen, saya seperti merasa di sebuah desa di Jawa Tengah; sangat sejuk, sunyi, dan nyaman. Di Amsterdam, saya benar-benar merasakan kota metropolitan bergaya Eropa yang ramai akantoko, kendaraan, dan manusia. Turis yang membawa koper dan peta bersliweran di mana-mana. Mereka sibuk berdiskusi dengan kawan maupun keluarga; tengok sana tengok sini, tunjuk sana tunjuk sini, berpikir sebentar lalu lanjut jalan. Saya yang sok santai padahal bingung juga, sibuk jepret sana jepret sini. Bukti autentik harus diprioritaskan hahahahaa...

Hari itu saya berencana ke Museumplein tempat di mana huruf-huruf raksasa I AMSTERDAM bertengger. Menurut info dari teman saya, untuk ke sana saya hanya perlu naik tram nomor lima atau dua. Tapi kata Meilun, lebih baik jalan kaki karena kita bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan dan kanal-kanal di sekitar situ (walaupun harus berjalan 30-60 menit). Tergoda oleh anjuran Meilun, saya memutuskan untuk berjalan kaki. Meilun benar, semakin saya berjalan, semakin saya kegirangan melihat pemandangan kanal berpadu dengan gedung-gedung ramping berdempet khas Belanda. Kadang sambil jalan, saya suka tepok pipi sambil bergumam, "beneran di Amsterdam nih?" Bodohnyaaa, saya tidak mengabadikan pemandangan kanal melainkan hanya bangunan-bangunannya saja, hiks..

Amsterdam Centraal

Jalan lagi sebentar, saya tiba di Dam Square dan museum Madame Tussauds. Hari itu hari Senin namun Dam Square benar-benar padat. Ini mah asli turis semua (termasuk saya). Di sana saya berharap bertemu turis yang sendirian juga, biar bisa jalan-jalan bareng dan bisa dimintai tolong untuk menjepret saya hehee... Namun saya tak kunjung mendapatkan teman seperjalanan. Ber-solo travelling memang seru, tapi untuk banci foto seperti saya, ini agak menyesakkan. Tidak ada yang memotret saya gitu lho (lebay). Alhasil saya putar layar kamera 180°, pasang self-timer, dan... jepret. Foto-foto narsis maksa pun terekam. Demi kemaslahatan banyak umat, saya kasih foto Dam Squarenya saja ya hehee..

 Dam Square

Dari Dam Square saya berencana naik tram ke Museumplein, sudah tak kuat jalan memikul tas punggung yang beratnya seperti menggendong bayi kembar. Namun sayangnya, jalur tram di depan Monumen Dam itu tidak dilewati tram 2 maupun 5. Entah di mana jalur mereka. Akhirnya saya jalan lagi dan menemukan Flower Market, tempat berbelanja suvenir. Hayuklah belanja. Menurut teman saya, mba Mira, di sini suvenirnya murah-murah. Memang benar, apalagi jika kita semakin menyusuri ke dalam, harganya makin murah. Kalap deh saya di sana. Saya juga mencicipi pancake khas Belanda, Poffertjes. Rasanya sama kayak pancake di Indonesia tapi harganya sampai sepuluh kali lipatnya (10.31). Pancake termahal yang pernah saya makan tuh hahaa...

Flower Market dan Poffertjes

Tidak terasa belanjaan saya sudah dua kantong. Tidak mungkin rasanya melanjutkan jalan ke Museumplein bawa tas dan belanjaan ini. Ndak kuaaaat... Rencana pun berubah; hari ini khusus belanja, besok khusus jalan-jalan. Akhirnya pukul enam sore saya balik ke hostel karena pukul tujuhnya ada janji dengan teman baru saya, Yuta. Dia orang Indonesia dan orangnya sangat menyenangkan.

Keesokan harinya saya check-out dan berencana menitipkan koper di Amstel agar bisa jalan-jalan sebentar di Amsterdam sebelum melanjutkan perjalanan malam ke Paris. Sialnya, saya menemukan masalah dengan mesin penitipan bagasi di sana. Mesin tersebut meminta pin sedangkan Mastercard saya tak ada pinnya. Saya luntang-lantung di sana sampai pukul tiga sore setelah pria di pusat informasi menyarankan saya ke ACS karena kemungkinan di sana mesin penitipan bagasinya masih menggunakan koin. Tapi ternyata di sana sama saja. Benar-benar galau antara mau balik lagi ke Amstel atau nekat ke Museumplein bawa koper. Di tengah kegalauan, bertemulah saya dengan Meilun di sana. Saya kira dia sudah balik ke China, tidak tahunya dia masih di Amsterdam dan baru pulang keesokan harinya. Kami berpelukan lagi.

Niat saya untuk mejeng di I AMSTERDAM begitu kuat sehingga saya nekat ke sana bawa koper dan mimikul tas yang berat ini. Call me crazy but.. yeah I'm kind of. Sesampainya di sana saya langsung sumringah. Yeeeaayy!! Alhamdulillah kesampean. Saat itu banyak sekali orang mengerubungi huruf-huruf raksasa tersebut untuk berfoto di sana dari yang manjat, tengkurep, jongkok, berdiri, dan berbagai pose lainnya. Saya sebenarnya mau banget seperti mereka, tapi keadaan membuat saya hanya memfotonya dari jauh sambil menjaga koper. Puas bermain-main di sana selama dua jam, saya akhirnya balik ke Amstel untuk check-in di konter bis Eurolines tujuan Paris. Ternyata jadwal keberangkatan dimajukan sejam lebih awal yaitu pukul sepuluh malam. Woohoo bisnya sudah datang, tot ziens Amsterdam!


I AMSTERDAM


Museumplein


Saya dan Paris

Suara supir bis yang terdengar dari mikrofon membangunkan saya dan penumpang lainnya. Katanya kami sudah di Paris. Aaaaah saya sampai di Paris dengan selamat sentosa saudara-saudara! Hari masih gelap, pemandangan sekitar juga tidak beda dari Amsterdam (yaiyalaaah, masih di terminal bis Eurolines Gallieni gitu hahaa..). Suasana Paris baru terasa ketika saya berada di toilet dan mendengar penjaga toilet mengucapkan "merci" yang terdengar serak-serak basah. Bienvenue à Paris! *nyengir di jalan*

Dari Gallieni saya langsung menuju Mister Bed Hotel yang jaraknya sangat dekat, hanya berjalan tiga menit. Saat itu masih pukul enam, saya khawatir saya belum bisa menempati kamar hotel karena belum memasuki waktu check-in. Eh tapi ternyata bisa karena kamar saya kosong dan siap pakai, jadi tidak perlu titip koper. Alhamdulillah. Setelah beres-beres, mandi, dan sarapan, langsung saja saya berangkat ke pusat kota naik metro.

Jalan-jalan ke Paris sendirian bukan tanpa khawatir. Wejangan-wejangan dari keluarga, teman-teman di Indonesia dan teman-teman baru saya di Breukelen dan Utrecht benar-benar bikin was-was.

Siap-siap, orang Paris banyak yang tak berbicara bahasa Inggris.
Hati-hati di Paris banyak copet.
Hati-hati kalau pulang malam di Paris, banyak kriminalitas.
Hati-hati, di dekat Eiffel banyak yang suka sok kenal sok deket.
Hati-hati, nanti hatinya dicopet pria Paris (yang ini asli ngasal ahahahaa)

Bekal saya waktu itu cuma peta kota dan metro yang didapat dari hotel (resepsionisnya baik dan berkenan berbahasa Inggris). Peta tersebut menjadi andalan saya satu-satunya karena di sana saya memilih untuk tidak banyak bicara kecuali mendesak. Bukan apa-apa, kemampuan bahasa Perancis saya kacau parah, hahaa..

Peta metro Paris terkesan rumit namun sangat jelas. Ya, Perancis terkenal dengan sistem transportasinya yang sangat terstruktur. Jika kalian sudah terbiasa dengan rumitnya sistem transportasi darat di Jakarta, insha Allah kalian bisa mengikuti apa yang tercetak di peta metro Paris sekalipun kalian menganggap diri kalian tak bisa membaca peta. Begitu saya memasuki stasiun bawah tanah, saya mengikuti tanda untuk metro yang ke arah stasiun Opera. Untungnya Opera ada di line yang sama dengan Gallieni (line 3) jadi saya tak perlu transit. Untuk memastikan saya sudah di Opera juga mudah, di dalam metro ada gambar line dengan titik-titik nama stasiun. Lampu titik-titik tersebut akan berkedip setiap memasuki stasiun yang dimaksud. Jadi ketika lampu berkedip di titik Stasiun Opera, saya siap-siap turun. Ya seperti inilah penampakan metro di Paris (gambar diambil dari internet, saya tidak berani mengeluarkan kamera di stasiun, hehe)

Stasiun Bawah Tanah, Metro, Mesin Tiket, Metro, dan Tiket Metro


Cukup lima belas menit naik metro, saya tiba di Opera. Bagaikan Angelina Jolie di film The Tourist, saya berjalan keluar menaiki tangga bersama kerumunan Parisian lainnya. Begitu tiba di permukaan, mata langsung dimanjakan pemandangan bangunan-bangunan khas Paris yang kokoh, elegan, cantik, berseni, dan romantis. Tak henti-hentinya saya bersyukur atas nikmat ini. Pemandangan yang biasanya hanya bisa dilihat di dunia maya, kini bisa dilihat langsung di dunia nyata. Ah, indahnya dunia~

Opera

Dari Opera, tujuan saya selanjutnya adalah Musée du Louvre, tempat lukisan-lukisan terkenal seperti Monalisa bertengger. Masih pukul sembilan pagi, semoga belum ramai. Untuk menuju Louvre, saya memilih untuk berjalan kaki karena menurut peta lokasinya tak jauh dari Opera. Sebenarnya saya bisa naik bis hop on hop off yang menawarkan tur keliling pusat wisata di Paris bagi para turis. Tapi dengan berjalan kaki saya bisa lebih menikmati setiap jengkal daerah pusat wisata tersebut.

Biasanya, saya selalu gagal membaca peta dan berakhir nyasar di suatu tempat di Indonesia, bahkan di Jakarta sekalipun. Tapi, selama di Belanda dan Paris, saya bisa membaca peta dengan sukses. Petanya tidak bohong, hehee.. Setelah sepuluh menit jalan, saya tiba di Louvre. Subhanallah, gerbangnya saja sudah indah nian, gimana dalamnya? Ternyata... indahnya keterlaluan! Museum Louvre berada di bawah tanah dan beratap kaca berbentuk piramida yang mencuat ke atas. Atap piramida ini berada di tengah-tengah halaman luas dan dikelilingi bangunan-bangunan megah dan kokoh. Banyak patung-patung (pria, wanita, malaikat) tanpa busana dan patung-patung ksatria menghiasi halaman museum Louvre. Setiap dinding dan atap bangunan-bangunan tersebut dihiasi pahatan-pahatan yang sangat mendetail dan banyak jumlahnya. Ini yang saya kagumi dari tadi. Tidak hanya di Louvre, di sepanjang jalan saya juga melihat banyak bangunan dengan pahatan-pahatan yang detail dan cukup rumit. Semua bangunannya indah.

Pahatan Khas Paris

Pandangan saya ke atap limas kaca itu terganggu oleh barisan manusia yang mengekor entah berapa meter. Dalam hati saya berpikir, mereka sedang apa sih? Eh setelah melihat papan petunjuk pintu masuk museum, barulah saya mengerti. Whuaat? Antrian masuknya sepanjang itu?! Lebih panjang daripada antrian sembako di Indonesia. Ini kan Rabu, kok antriannya seperti akhir pekan saja. Wey sadar wey. Ini Paris. Musim panas pula. Setiap hari adalah akhir pekan. Bendera putih saya kibarkan, menyerah. Lebih baik melanjutkan ke objek wisata lainnya.

Dari Louvre, saya berjalan ke arah selatan menuju taman Jardin des Tuileries, Concorde, Champs Élysées, dan Arc de Triomphe Etoile. Keluar dari Louvre, saya sampai di taman Jardin des Tuileries yang di sisi kanan dan kirinya terhampar taman hijau yang dipenuhi dengan bunga-bunga musim panas yang cantik dan burung-burung. Oiya, ada labirin tanaman juga. Asyik sekali bermain di sana.

Musée du Louvre dan Jardin des Tuileries

Setelah asyik menyusuri taman tersebut, pemandangan yang tersaji di depan mata adalah Tugu Concorde. Bentuk tugu tersebut mirip sekali dengan Tugu Pahlawan di Surabaya. Nah, dari situlah saya berjalan menuju Arc de Triomphe. Jalan yang menghubungkan Tugu Concorde dan Arc de Triomphe Etoile adalah jalan Champs Élysées. Ketika berjalan di jalan ini, alunan lagu Champs Élysées-nya Joe Dassin langsung berputar di otak saya. Lagu dan suasanya saling bersinergi, bikin hepii!

♫ Aux Champs-Élysées .. Aux Champs-Élysées..
   Au soleil, sous la pluie, à midi ou à minuit
  Il y a tout ce que vous voulez
  Aux Champs Élysées..

Champs Élysées sangat terkenal dengan toko dan butik fashion kelas dunia seperti Louis Vuitton, Zara, Prada, H&M, Sephora, dan lain-lain. Surganya para fashionista, hahaa.. Ironisnya, di sepanjang jalan ini masih ada beberapa pengemis. Ya, di Paris masih ada pengemis di jalan, pengamen di metro, dan beberapa PKL di pinggir jalan seperti di dekat stasiun Gallieni. Agak berbeda dengan pemandangan jalan yang saya lihat di Belanda; rapi dan teratur. Terlepas dari itu semua, Paris tetap indah. Di jalan ini saya juga menemukan atraksi-atraksi yang menarik dan menghibur.

Concorde dan Champs Élysées

Tak terasa dua puluh menit sudah saya berjalan kaki dari Tugu Concorde. Yup, saya sudah di ujung jalan Champs Élysées dan di depan Arc de Triomphe Etoile, sebuah monumen penghargaan bagi pahlawan yang gugur ketika Revolusi Perancis dan Perang Napoleon. Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sana dan duduk memandangi monumen kemenangan tersebut.

Cukup satu jam bersantai, saya lanjut jalan ke menara Eiffel. Ternyata jauh juga dari Etoile. Tapi itu semua worth it ketika saya tiba di Trocadero. Menara Eiffel menyambut! Subhanallah indah banget! Di siang hari saja dia sudah indah, apalagi di malam hari. Akhirnya gambar yang sudah saya lihat di RPUL waktu SD bisa saya nikmati langsung di depan mata *jingkrak-jingkrak*. Lalu, saya puas-puasin deh memandangi dan menjepret menara gagah namun cantik itu sambil menjilat es krim cokelat yang lembuuut.  Tak terasa sudah pukul tujuh malam (tapi langit masih cerah). Saya memilih untuk pulang ke hotel sebelum malam yang beneran tiba.

Menara Eiffel, Arc de Triomphe Etoile, dan Trocadero

Keesokan harinya, perjalanan saya dimulai dari Opera dan Louvre lagi dan dilanjutkan ke arah utara Louvre, yaitu Sainte Chapelle, dan Notre Dame. Tadinya saya juga berniat ke Sacré Cœur di Montmartre tapi bingung harus turun di stasiun mana, hehee.. Entah mengapa, ketika di Louvre, saya masih belum puas dengan jalan-jalan saya di museum tersebut. Akhirnya saya puas-puasin berada di sana sambil melakukan self-photography. Saya tidak menyangka aksi narsis saya dengan tangan "V" itu membuat bapak tua di depan saya tertawa dan membuat turis asing yang berjalan di depan saya menawarkan diri untuk memoto saya. Merci boucoup!

Selfie :p


Keluar dari Louvre, saya tak sengaja menemukan jembatan cinta Sungai Seine. Ribuan gembok yang bertuliskan nama sepasang muda-mudi tertambat di sepanjang kawat besi jembatan. Penuh hingga tak ada satu celah pun tersisa. Wah wah wah.. jembatan dipenuhi cinta-cinta yang terkunci hihihi.. Nah di jembatan ini, saya menikmati pemandangan Sungai Seine dan beberapa bangunan indah lainnya dengan sudut pandang yang pas dan ditemani alunan melodi akordion. Manis-manis romantis.

Gembok Cinta di Jembatan Sungai Seine

Setelah asyik ber-romantis ria di jembatan cinta, saya melanjutkan perjalanan ke Sainte Chapelle dan Notre Dame. Sainte Chapelle ini adalah kapel bergaya gotik abad pertengahan yang dulunya digunakan khusus untuk keluarga kerajaan. Jenisnya sih kapel, tapi kok ya gede banget hehee.. Wujud bangunan Sainte Chapelle ini seperti kastil yang membuat saya berpikir tentang Hogwarts dan Harry Potter lagi. Duh. Sebenarnya saya pengen banget melihat arsitektur interiornya, tapi ternyata pintu gerbangnya ditutup. Mungkin jadwalnya tutup kali ya.

Selesai foto-foto di luar Sainte Chapelle, saya berjalan lagi ke Notre Dame. Wah ramai sekali di sana, apalagi antrian masuk Notre Dame-nya. Notre Dame adalah katedral yang arsitekturnya Paris banget. Banyak pahatan-pahatan di dinding dan atapnya. Tapi sebagai katedral, bentuk bangunan Notre Dame cukup unik. Biasanya katedral mempunyai atap kerucut seperti kastil, namun tidak halnya dengan Notre Dame. Bentuk bangunannya kotak, di bagian atasnya seperti ada dua menara dan ada jembatan penghubung kedua menara tersebut. Di depan Notre Dame ada lapangan terbuka dan tribune. Mungkin setiap malam suka diadakan pertunjukan kali ya. Nah di tribune itu saya santai, makan siang, sambil memandangi kerumunan manusia di lapangan tersebut. Rasanya seperti piknik.

Sainte Chapelle, Sungai Seine, Notre Dame

Puas piknik-piknik cantik di Notre Dame, saya lanjut belanjaaa.. Ini demi memenuhi dahaga keluarga dan kerabat akan suvenir Paris, hehee.. Saya tidak menyangka kalau saya telah menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk belanja. Hah, wanita. Dan yak, belanja adalah agenda terakhir saya hari itu. Sekitar pukul tujuh sore saya balik ke hotel untuk mengambil koper, makan malam, serta check-in di Eurolines tujuan Amsterdam. Keesokan harinya saya harus check-in di Schipol untuk penerbangan ke Jakarta. Waktu saya di Belanda dan Perancis sudah habis, hiks. Bakal kangen banget nih jalan-jalan sendirian seperti ini.

Yak inilah akhir dari kisah-kisah saya selama mengikuti Utrecht Summer School dan jalan-jalan di Belanda dan Perancis. Bisa dibilang ini postingan pamungkas yang cukup panjaaang (semoga kalian betah membacanya). Belanda dan Perancis menawarkan keindahan yang berbeda. Satu hal yang saya suka dari keduanya adalah sistem transportasi umum kedua negara tersebut. Mudah, nyaman, terstruktur, dan tepat waktu. Semoga sistem transportasi umum di Indonesia bisa seperti ini ya dalam waktu dekat.

Nuffic Neso Indonesia telah memberikan saya kesempatan yang berharga banget. Dengan mengikuti kelas musim panas tersebut, saya bisa belajar di kelas global, bertemu teman-teman dari negara lain, serta jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di Belanda dan Perancis. Benar-benar membuka wawasan baru. Yang paling penting dari itu semua, saya mampu mengalahkan rasa takut untuk berpetualang sendiri. Belanda adalah negara yang aman dan nyaman untuk dikunjungi. Paris juga tidak seseram yang saya perkirakan. Alhamdulillah selama perjalanan di Paris, tak ada barang yang berpindah tangan. Lebih horor di Jakarta sepertinya hehee.. Selain itu, walaupun para Parisian kurang bisa berbahasa Inggris, tapi mereka ramah dan sangat membantu. Entah itu resepsionis hotel, kasir Mc Donalds, pemilik toko suvenir, supir bis Eurolines, turis Paris, hingga orang Paris yang membantu saya mengangkat koper di tangga stasiun, semuanya baik. Dan satu lagi, mereka modis.

Perjalanan solo terkadang membuat kita berpikir berlebihan mulai dari keamanan, kenyamanan, hingga masalah nyasar. Eyang J.R.R. Tolkien pernah berpesan, "not all who wander are lost". Jadi jangan takut berlebihan ketika jalan-jalan sendiri. Bumi ini milik Tuhan, kepada-Nyalah kita memohon perlindungan di bumi-Nya.

Jadi, sudah siap mengikuti Kompetiblog 2014 dan memulai perjalanan solo ke Belanda seperti saya?

"Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Perjalananku bukan perjalananmu, tapi perjalananku adalah perjalananmu" - Agustinus Wibowo



Photo Credits:


You Might Also Like

2 comments

  1. Wah...senangnya baca blog kamu ini n tau kamu bisa jalan-jalan di Paris! ^^
    Syukur kalo selama kmu di Belanda dan di Perancis semuanya berjalan dengan lancar :)
    Semoga postingan ini menambah semangat juga buat orang-orang yang mau ikut Kompetiblog 2014 ya :D
    I miss NL n Paris so much! :(

    ReplyDelete
  2. iya Ky, alhamdulillah jalan-jalannya lancar. Yup, semoga taun depan yang ikut Kompetiblog lebih banyak :))

    aku juga kangen banget sama NL & Paris. Suasananya bener2 bikin kangeeen

    ReplyDelete