Fenomena Foodstagram

11:31 AM



Rating bidang fotografi di kancah pergaulan kaum metropolitan itu lagi tinggi ya. Bisa dibilang, itu budaya populer masyarakat kota besar saat ini. Apalagi ditambah dengan kehadiran aplikasi fotografi online seperti Instagram, Path, dan Pinterest, yang bisa dihubungkan ke media sosial paling hit abad ini; Facebook dan Twitter. Dengan menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, banyak orang berbagi macam-macam foto dengan berbagai tema seperti pemandangan, makanan, personal, melancong, dll. Kamera yang digunakan juga macam-macam, mulai dari DSLR, kamera saku, bahkan kamera ponsel. Tapi biasanya sih ya, kamera ponsel sering digunakan di antara kamera lainnya karena prosesnya cepat-- ambil foto, edit, unggah ke instagram/path/pinterest, sambung ke Twitter dan Facebook, dan klik! Diri merasa kece, apalagi kalau yang suka dan kasih komentar di foto itu banyak. 


Ehem, itu sebenarnya menceritakan pengalaman sendiri sih.

Nah, fungsi aplikasi tersebut sebenarnya berlapis-lapis. Lapis pertama, untuk berbagi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, seperti makanan enak, pemandangan indah, dan perjalanan yang kita nikmati. Lapis kedua, lebih ke memamerkan skill fotografi kita lewat kamera ponsel, cara mengambil gambar (angle), dan tentu saja, edit-mengedit. Untuk beberapa saat sih, kebiasaan baru ini terlihat normal. Tapi, lama-kelamaan hal ini dianggap mengganggu bagi sebagian orang. Contohnya bisa dilihat kejadian yang baru-baru ini terjadi di Amerika.


Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel mengenai larangan memotret makanan di beberapa restoran di Amerika seperti Tocqueville, Per Se, dan Bouley. Seperti yang dilansir di beberapa portal berita seperti Yahoo, Detikcom, dan Okezone, restoran-restoran tersebut merasa terganggu dengan aksi beberapa pelanggannya yang selalu memotret makanan, atau istilah instagramnya-- foodporn. Menurut mereka, para pelanggan kini lebih menikmati kegiatan memotret itu sendiri dibandingkan makanan yang dihidangkan. Saya jadi membayangkan, mungkin karena naluri foodporn mereka lebih akut daripada orang Indonesia. Kalau kita memotret makanan masih dalam posisi duduk, mungkin mereka ada yang berdiri, jongkok, bungkuk, miring, jinjit, atau bahkan kayang demi mendapatkan angle yang bagus. Ya kalau kejadiannya kayak begini sih, pelanggan restoran lain yang mau makan juga sudah kenyang sendiri melihat mereka foodporning.

Namun demikian, restoran Bouley yang melarang memotret makanan di restoran mereka mengizinkan para pengunjungnya memotret makanan yang akan dihidangkan di dapur restoran. kata Chefnya sih, suasana dapur lebih mendukung dibandingkan ruang makan. 

Lalu ada juga restoran yang menyediakan menu makanan melalui instagram seperti restoran Comodo. jadi kalau mereka bingung mau pilih menu yang mana, mereka tinggal mengeceknya di Instagram menggunakan tagar #Comodomenu.

Intinya sih ya, kembali lagi ke hakikat makanan itu sendiri. Makanan itu dibuat untuk dinikmati. Jangan sampai kita kenyang duluan sebelum makanan itu dimakan. Kalaupun mau foto makanan, gayanya yang wajar-wajar aja, tidak perlu sampai kayang atau menungging. Kesian makanan ditunggingin. Dan jangan sering-sering foodporn terus pamer ke Instagram, karena sesungguhnya pamer foto tanpa memberi wujud asli makanan itu sendiri ke followers adalah sebuah dosa besar! Yah kalau bisa sih, bagi-bagi makanannya juga gitu. *kalem*





Sumber Foto: http://scodal.com/a/saved3/foodporn.wafflethatsmiles.jpg

You Might Also Like

2 comments

  1. Sepakat sama paragraf terakhir, makanan itu ya buat dimakan, dinikmati. Dan jangan lupa, disyukuri, bagaimanapun juga itu nikmat dari Allah :)

    *anyway...Dyah, kok ga ada foto makanan disini? hahaha

    ReplyDelete
  2. yup bener banget, harus disyukuri apapun makanannya. Oh iya ga ada foto makanannya ya. Diunggah dulu deh kalo gitu

    ReplyDelete