Celotehan Tasya (bagian 2)

11:34 PM

Jadi, di hari Kamis mendung itu, saya mengajar bahasa Inggris karena besoknya ada pelajaran itu. Kali ini, kami mempelajari anggota tubuh manusia. Di buku bahasa Inggrisnya itu, bab anggota tubuh ini dinamakan Monster Monty has Two Big Eyes. Di samping judul, ada seseorang (kartun) memakai topeng hijau seperti topeng dalam film The Mask. Sebenarnya, ia sudah mempelajari pelajaran ini di kelas dua semester satu. Namun, karena ia sibuk memainkan ingus dan lainnya, hafalan itu pun terbang entah kemana. Alhasil, saya harus membuatnya hafal kembali.


Suatu ketika, saya menanyakan padanan kata "hidung" dalam bahasa Inggris. "Ini apa, Cha?" tanya saya sambil menunjuk hidung saya.
"Umm... Nose!" Sentaknya.

"Yup betul. Terus kalau ini?" Saya menunjuk pipi saya. Dia tidak menjawab melainkan memandang langit-langit di kamarnya. Ngapain lagi nih anak? Pikir saya.
"Cha, ini apa?" Tanya saya sekali lagi sambil menggelitiki perutnya yang jumbo. Ia langsung pindah posisi seraya bertanya,"Kak, bahasa Inggrisnya 'kotoran' apa?"
"Umm... maksudnya kotoran yang mana nih? Kalau kotoran buat ngatain orang itu..." Ups, saya langsung diam sebelum kata shit meluncur dari mulut saya. Saya langsung menggantinya dengan istilah yang lebih ilmiah: feces.
"Kotoran itu bahasa Inggrisnya feces. Ya, feces." Dia diam sejenak, terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Berarti kalau 'upil' itu bahasa Inggrisnya feces nose dong? 'upil' kan kotoran hidung. Kotoran itu feces, hidung itu nose. Jadi, kotoran hidung itu ya feces nose. Ya kan?" Jawabnya mengebu-gebu. Sontak tawa saya meledak. Terpingkal-pingkal saya dibuatnya.
"Ya nggak gitu juga, Cha," jawab saya dalam keadaan masih setengah tertawa. "'upil' itu... umm.. apa ya bahasa Inggrisnya 'upil'? Umm.. nose wax mungkin, seperti ear wax--kotoran telinga."

Lepas dari perkara feces nose, kami langsung hinggap ke bagian tubuh yang lain. Kali ini, jari-jemari. Dia lupa total, yang dia ingat hanya finger. Saya langsung mengangkat telapak tangan kiri saya dan mengabsennya satu per satu.
"Ini kelingking, little finger. Ini jari manis, ring finger. Ini jari tengah, middle finger. Ini jari telunjuk, forefinger. terus yang ini ibu jari. Ayo bahasa Inggrisnya ibu jari apa? Ini gampang banget lho, Cha. Kebangetan kalau kamu nggak tahu."
"Aku tau! Mum finger! Ya kan? Bahasa Inggrisnya 'ibu' itu mum, 'jari' itu finger. Jadi 'ibu jari' itu ya mum finger, heheheee..." jawabnya senang. Nyengir pula.

Gubrak.

Saya langsung mencubit kedua pipinya. Gemas betul. "Ih kamu tuh, masa bahasa Inggrisnya 'jempol' aja lupa. Thumb! itu bahasa Inggrisnya 'jempol'." Timpal saya.

Di hari Senin, kemarin, kami belajar IPS. Kami mempelajari bab Kerja Sama. Saya melatihnya dengan membacakan soal di buku kumpulan soal yang dibelikan ayahnya. Salah satu pertanyaan itu berbunyi:

Salah satu bentuk kerja sama di lingkungan keluarga adalah....
a. menyiapkan upacara bendera
b. menyelenggarakan program PKK
c. beternak ayam

Dia terlihat berpikir sejenak lalu berkata, "PKK itu singkatan dari apa sih, Kak?"
Nah di sini saya lumayan bingung. Saya tahu apa PKK itu tapi kalau menyangkut singkatan, saya lupa. Saya jawab saja, "PKK itu organisasi ibu-ibu di lingkungan RW. Misalnya kamu berada di RW 1. Berarti Bunda kamu ikut PKK RW 1. PKK RW 2 beda lagi. Yang ikut khusus ibu-ibu RW 2. Programnya tuh kayak Posyandu gitu lho, Cha. Kalau nggak salah sih ya, PKK itu singkatan dari Perkumpulan apa gitu, kakak lupa. Ya pokoknya gitu deh," jawab saya sekenanya. Ngasal lebih tepatnya.

"Ih kok gitu sih. Salah, Kak. Harusnya PKK itu Perkumpulan Kakak-Kakak. Kalau ibu-ibu, ya PII, Perkumpulan Ibu-Ibu."

Gubrak. Ketularan sesat deh nih anak. Saya pun tertawa terbahak-bahak (lagi).
"Kamu itu seenak udelmu sendiri ya kalau jawab. Ya nggak gitu juga, Cha. Pokoknya PKK itu organisasinya ibu-ibu di lingkungan RW tapi kakak lupa kepanjangannya apa. Kalau perkumpulan kakak-kakak itu bukan PKK, tapi Karang Taruna." Dia terlihat bingung.

Di saat tidak jelasnya membicarakan soal PKK, adiknya yang bernama Rara datang. Ia duduk di sebelah Tasya sambil bernyanyi penggalan lirik lagu Keong Racun.

"Sorry sorry sorry, Jack. Kubukan cewek murahan..."
Sadis betul nyanyian anak ini. Merasa usil dan penasaran, saya langsung menanyakan arti dari frase "cewek murahan".
"Ra, emang kamu tahu apa arti dari 'cewek murahan'?"
"Umm.... enggak."
"Kalau nggak tau kok dinyanyiin?"
"Umm.. 'cewek murahan' itu berarti harga ceweknya murah. Jadi kalau mau jual cewek, harganya murah. Umm.. apa ya? Gitu kan, Kak? Sama boneka Shaun the Sheep murahan mana ya, Kak?"
"Emang iya, Kak?" Si Tasya ikut bertanya.

Nah lo. Ini namanya senjata makan Tuan. Niat saya ingin membuat mereka bingung. Sekarang malah saya yang bingung harus jawab apa. Saya alihkan saja pembicaraannya ke topik boneka Shaun the Sheep. Saya bilang kalau saya terkadang menonton acara tersebut. Dengan mudahnya mereka langsung membahas Shaun the Sheep dan melupakan perkara 'cewek murahan'.

Tasya. Anak ini sangat lucu dan seperti malaikat ketika ia dalam kondisi baik, makmur sentosa. Ketika mood-nya sedang hancur karena masalah sepele seperti makanan, alat tulis, dll., dia bisa menjadi seonggok daging yang menyebalkan. Hahahaaa...

You Might Also Like

0 comments