Balada Pelangi dan Sore

3:21 PM

Sore yang hangat di tanah manis. Pelangi yang pudar di tanah polutan. Alunan tuts-tuts piano dan senar-senar gitar menggema. Hanya itu yang tersisa, menyiksa...

Sepertinya hari ini Pelangi akan mengalami sesuatu yang baru sejak awal mula keberadaannya. Pengalaman baru. Sebelumnya ia hanya tampil di muka Bumi saat Pagi tiba atau ketika Siang mulai menyapa. Yang pasti, ia selalu hadir di Langit ketika pengawalnya datang lebih dahulu ke Bumi untuk mengabarkan bahwa nona Pelangi yang ceria akan tiba setelahnya. Setahu Pelangi, kawannya jarang sekali, bahkan tidak pernah menyapa Bumi ketika Sore dan Malam meredupkan Bumi. Pelangi memaklumi itu karena mereka semua memang baru diciptakan satu putaran Bulan yang lalu.

Pelangi akan berkenalan dengan Sore hari ini. Hujan telah membasahi Bumi sejak dua jam yang lalu, namun Pelangi merasakan sesuatu yang aneh. Biasanya, ia selalu merasa sejuk ketika Hujan telah selesai melakukan tugasnya, namun kali ini tidak. Ia merasa hangat dan nyaman, menambah keceriaan di wajahnya. Dan yang membuat ia terkejut adalah, ia melihat warna baru; warna jingga! Lalu, sesosok fenomena baru menghampirinya. Pelangi bertanya-tanya apakah ia Sore atau bukan. Ya, ia adalah Sore.

Sore benar-benar hangat dan sangat membuat Pelangi nyaman. Kehangatannya mengalir begitu saja. Tanpa Hujan pun, ia akan selalu senang menampakkan dirinya ke Bumi ketika Sore tiba. Kala itu, mereka berinteraksi, bukan dalam sebuah bahasa namun dengan pancaran sinar dan aura warna. Hanya Angin yang mampu menerka setiap pancaran dan aura itu. Lalu ia berhembus, mengabarkan pada dunia tentang apa yang ia saksikan; sebuah kehangatan yang bercampur dengan keceriaan. Awal yang indah untuk mengawali sebuah kehidupan di muka Bumi; untuk Adam dan Hawa.


Suatu saat, Angin merasakan interaksi Sore dan Pelangi. Lalu ia menerjemahkannya ke dalam bahasa yang mungkin tak mampu mengekspresikan apa yang Angin rasakan saat itu. Namun setidaknya ia memberitahukan hal ini kepada makhluk hidup di muka bumi.




Sore               : Aku suka dengan warna-warnamu, Pelangi. Mereka indah. Sungguh.
Pelangi           : Oh ya? Terimakasih. Tuhanlah yang menciptakanku seperti ini. Ia mempunyai alasan tersendiri untuk itu, bukan?
Sore               : Ya.
Pelangi          : Dan aku juga suka pancaran hangatmu. Aku tahu kau adalah Matahari, Matahari Sore. Dan aku yakin semua makhluk hidup akan menyukaimu juga. Kau memberi ketenangan.
Sore               : Dan kau memberi keceriaan. Tapi aku melihat ada yang kurang dalam warnamu.
Pelangi            : Benarkah? Apa? Kupikir Tuhan telah menciptakanku dengan sempurna.
Sore             : Ya, dia memang telah menciptakanmu dengan sempurna. Tapi Dia ingin aku melengkapi warnamu. Ini, kuberikan warna jinggaku padamu. Semoga ini akan menambahkan keceriaan bagi siapa saja yang melihatmu.
Pelangi            : Terimakasih. Satu warnamu telah mewarnai warnaku. Dan itu terasa hangat.


Beberapa waktu berlalu. Pelangi selalu hadir setelah Hujan datang membasahi Bumi, bahkan ketika Salju menyelimuti Bumi. Kini ia tak perlu khawatir akan rasa dingin ketika Salju menyapa, ia telah memiliki kehangatan Sore dalam warnanya. Ia merasa, makhluk hidup semakin menyukainya.


Satu musim berlalu. Ia merindukan Sore. Ia meminta Hujan mengantarnya kepada Sore. Dan mereka pun bertemu. Semusim benar-benar membawa perubahan yang cukup jelas bagi keduanya. Pelangi sangat tercengang melihat bagaimana Waktu mengubah segalanya. Sore muncul, dan ia sangat hangat dari biasanya. Ia menyapa. Pelangi berwarna. Mereka berinteraksi cukup lama hingga Waktu mengingatkan mereka. 




Sore                  : kau dengar nyanyian Waktu? Kurasa aku harus melakukan kebiasaanku sekarang. Sayang sekali kita harus mengakhiri obrolan ini.

Pelangi                : Waktu? Oh, ya. Benar. Memang apa yang biasa kau lakukan saat ini?
Sore                    : Aku akan menjemput Malam. Kau tahu, dia sangat menyenangkan.
Pelangi                : Malam? Kau belum pernah melakukan ini sebelumnya, bukan? Maksudku, menjemput Malam?
Sore                    : Pelangi? Kau benar-benar tidak tahu? Aku sudah melakukan ini sejak pertama kali aku diciptakan. Dan aku menyukainya.
Pelangi                : Kau menyukai Malam?
Sore                    : Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Pagi untuk Siang. Sore untuk Malam. Dan Hujan untuk Pelangi. Itulah yang Tuhan mau. Dan aku sangat menikmatinya.
Pelangi                : Begitukah?
Sore                    : Dan kau tahu? Dengan Malam, aku temukan ketenangan dalam gelapnya. Kami benar-benar menyatu. Dan kau tahu? Manusia sangat gembira saat-saat ketika kami bertemu. Petang. Ya, mereka menyebutnya Petang. Bukankah itu sangat luar biasa?
Pelangi                : Ya. Luar biasa.

Epilog: Pelangi
Kau memang luar biasa, begitu pula dia. Hal itu hanya tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. 


D.S.

You Might Also Like

0 comments