Cermin

10:42 PM



Mereka adalah cermin. Semakin kalian lihat, semakin kalian dapati refleksi kehidupan sebenarnya-- refleksi kehidupan simulasi yang kita jalani saat ini. Kita hidup dalam cetakan, kita dibentuk dalam dunia semu tanpa memperhatikan realitas yang ada. Kalian tahu kalau Disney Land itu indah dan menawan, seperti hidup dalam dunia animasi. Itulah dunia semu. Kalian tahu bahwa Sentosa dan Universal Studio di Singapur itu megah akan pemandangan alamnya seperti Pantai Palawan , Pantai Siloso, dan Pantai Tanjong. Pasir putih yang menghiasi pantai itu sangat indah mendekati aslinya. Ya mereka semua buatan, kita tahu itu semua buatan namun kita menikmatinya. Kita menikmati segala keindahan buatan itu. Kita dibentuk dalam sebuah cetakan. 

Kalian pernah dengar ungkapan "sinetron hanya menjual mimpi"? Seperti itulah sinetron membentuk manusia dengan akting yang berlebihan. Mereka seakan ingin membawa terbang manusia dari realitas yang ada untuk sejenak saja.

Kita butuh cermin, bukan begitu? Cermin yang merefleksikan realitas bahwa hidup tak semanis dan seindah pantai-pantai di Sentosa, tidak pula pahit seperti kisah di sinetron yang laris manis saat ini yang mana pemeran utamanya secara bergantian lupa ingatan dan selalu diteror oleh pemeran antagonisnya. Tidak.

Cermin itu ada dimana-mana. Terkadang saya melihat mereka: lansia, pengemis, anak kecil, remaja, pedagang, ibu rumah tangga, dsb. Jumat lalu, sekitar seminggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek berpakaian hitam dan putih (mayoritas hitam). Ia mengenakan gamis hitam bermotif bunga-bunga berwarna putih, celana hitam, kerudung hitam, tas krem, dan sendal biru. Saya bertemu dengannya di Rawapanjang ketika sedang menunggu bis Mayasari 63.

Ia datang menghampiri perempuan setengah baya di depan saya dengan jalan yang tertatih-tatih, menanyakan kepada perempuan itu apakah bis yang menuju Masjid Istiqlal sudah tiba atau belum. Perempuan itu menjawab belum dan melihat kondisi nenek itu, guratan rasa iba tergores di wajahnya. Ia lalu memberi nenek tersebut uang saku, 4000 rupiah jumlahnya. Nenek tersebut berterimakasih padanya.

Tinggalah saya, nenek itu, dan dua orang penunggu lain di tempat itu. Hening sejenak, nenek itu berpindah ke tempat yang lebih teduh. Lalu seorang pria setengah baya menanyai hendak kemana nenek itu pergi. Nenek itu menjawab bahawa ia mau ke Masjid Istiqlal untuk mengambil sedekah. Pria itu pun tampak iba setelah ia mengetahui bahwa nenek itu pergi sendirian di tengah kondisinya yang seperti itu. Dada saya ikut sesak. Saya baru mengetahui bahwa bis yang saya akan naiki menuju kampus ternyata menuju Masjid Istiqlal pula. Lalu saya menawarkan diri menggandeng nenek tersebut untuk menaiki bis Mayasari 63. Sosoknya mengingatkan saya kepada kedua nenek saya. Nenek itu duduk di belakang, dan saya memilih duduk di depan: Saya tak ingin meneteskan airmata di sampingnya. Lalu saya beritahu 'kenek' bis itu agar menurunkan nenek itu di Masjid Istiqlal karena pendengaran nenek itu agak buruk. Mungkin banyak penumpang yang menyangka bahwa nenek itu adalah nenek saya. Tak apa.

Perkuliahan saya berlangsung hanya satu jam setengah yang berarti saya pulang sekitar pukul setengah tiga sore. Hari itu saya tak perlu menunggu bis lama seperti biasanya. Bis itu pun tiba sesaat saya tiba di bypass Rawamangun. Bis itu tampak penuh dan saya mendengar suara seseorang yang menyuruh saya menempati satu bangku yang kosong di belakang supir. Orang itu adalah nenek yang saya jumpai tiga setengah jam yang lalu. Subhanallah.

Namun, nenek itu tampaknya lupa dengan saya dan saya memaklumi hal itu. Ia pulang membawa bungkusan berwarna hijau. Mungkin itu sedekahnya. Saya berterimakasih kepada Allah karena menjaga nenek itu agar selamat sampai tujuan, sampai saat itu. Ia tersenyum. Dada saya sesak, air mata pun mengalir dengan sendirinya. Mungkin penumpang di sebelah saya bingung mendapati diri saya yang seperti itu. Lalu nenek itu mencari kantung plastik hitam yang sepertinya ia lupa menaruhnya dimana. Beberapa menit kemudian ia menemukan plastik itu dan menaruh sedekahnya di dalam plastik itu.

Saya dapatkan lagi mozaik kehidupan. Saya tak menyangka bahwa sedekah itu sangat berarti baginya. Ia merelakan dirinya pergi sendiri dengan kaki yang tidak memberinya kekuatan secara maksimal. Sendiri di usianya yang sudah tua demi sebuah sedekah untuk menyambung hidup. Itulah realitas. Suka atau tidak, kalian melihatnya setiap hari. Mereka adalah cermin dimana kehidupan direfleksikan secara gamblang. Lihatlah cermin itu, ia mengajakmu merenungi makna hidup ini..




You Might Also Like

0 comments