Saktiana D.H.: Ada Pelangi di Kelas Kami

9:48 PM

Saya benar-benar kangen sama makhluk yang satu ini. Sudah hampir 4 bulan kami tidak bertemu, tidak mengajar bareng, tidak tidur bareng, tidak menggosip bareng. Haahh, saya kangen sekali masa-masa itu. Sepeda motor almarhum ayahnya yang saya naiki untuk pergi mengajar juga terasa enteng tanpa dia di belakang saya.

Dia adalah Saktiana Dwi Hastuti, alumni Universitas Indonesia angkatan 2009, anak ke 2 dari 2 bersaudara (anak kandung dari Alm. Ari & Nunuk), wanita berjilbab yang mempunyai pipi tembem, pacar dari Hadi Dera Pradityo (untuk saat ini, ya), adik dari Harni Wijayanti, dan tentu saja, sepupu saya. Kami sudah akrab sekali sedari kecil: bermain bersama, naik sepeda bersama, mencari biji peletekan (biji bunga yang kalau ditaruh di air, ia akan meledak), main congklak bersama, main bingo bersama, main kartu remi bersama, main catur bersama, mandi bersama & tidur bersama (kadang), curhat bersama, dan suka bercerita hantu bersama.

Dia pergi ke Majene bulan November silam untuk menunaikan tugasnya sebagai Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar, sebuah yayasan pendidikan yang diwenangi oleh Anis Baswedan. Susah sekali menghubunginya semenjak ia tinggal di Majene, sinyal telepon dan internet sangatlah rendah. Namun saya senang sekali mendengar kabarnya dari ibunya. Disana rupanya ia menikmati pengalaman yang membuat saya iri! Seru sekali!! Baru saja, ia memperbaharui Facebooknya. Dan kalian tahu? Ia menulis catatan tentang dirinya dan murid-muridnya di sana! Ini dia penggalan kisahnya. Selamat membaca, semoga memberi kalian inspirasi!




Ada Pelangi di Kelas Kami


“Ketahuilah, hal-hal terindah di dunia ini terkadang tak bisa terlihat dalam pandangan atau teraba dengan sentuhan. Mereka hanya bisa terasakan dengan hati.”



Begitulah ungkapan dari Helen keller, penulis tuna wicara-netra dari Amerika serikat, yang ternyata memang saya rasakan belakangan ini. Ada hal-hal terindah yang memang tidak bisa dilihat atau disentuh. Mereka memang hanya bisa dirasakan dengan hati. Ya, kehadiran anak-anak murid saya di kehidupan saya saat ini adalah hal-hal terindah yang saya rasakan sekarang ini. Mereka adalah pelangi. Pelangi yang selalu dapat saya lihat setiap hari. Cinta mereka dan ketulusan hati mereka. Memang semua itu tidak terlihat oleh mata dan tersentuh oleh raga. Namun, ia bisa dirasakan di dalam jiwa.

“Assalamualaikum.. Ibu.. Ibu guru...”
Begitulah panggilan ramai suara anak-anak membangunkan saya dari tidur di sabtu kemarin. Saya lihat jam dinding kamar yang ternyata sudah menunjukkan pukul 09.15 WITA. Kepala saya masih terasa agak pening. Namun suara panggilan anak-anak dari luar yang terus menerus menggema membuat saya bergegas bangun ke luar kamar.

Saya pun bergegas ke halaman. Tidak disangka, anak-anak murid yang saya ajar, yaitu anak-anak kelas lima SD N 19 Limboro telah berdiri manis di depan pagar. Saya pun lantas menyuruh mereka semua masuk ke dalam pekarangan. Dengan langkah dan senyum yang malu-malu mereka membuka sepatu dan sandal mereka kemudian masuk ke dalam rumah orang tua angkat saya di sini.
“Ibu, kami mau menjenguk Ibu Guru!” celetuk seorang anak murid saya yang saya kenal betul suaranya. Ya, Arman yang berbicara. Ia anak saya yang paling aktif berbicara dan paling lancar berbahasa Indonesia.

Saya pun kemudian menanyakan kepada mereka siapa yang menyuruh mereka menjenguk saya. Mereka pun dengan wajah yang malu-malu berbicara bahwa tidak ada yang menyuruh mereka. Mereka sendiri yang berkeinginan menjenguk saya.

Saya pun tersenyum melihat wajah-wajah lugu mereka. Perasaan haru luar biasa menyelimuti saya di Sabtu pagi itu. Saya memang izin mengajar hari itu karena sakit diare sejak Jumat sore. Jadi, saya tidak dapat mengajar mereka hari itu. Namun tidak di sangka, baru satu hari tidak masuk saja, mereka berbondong-bondong menjenguk saya. Memang, jarak sekolah ke rumah saya tidaklah jauh. Mungkin sekitar  80 meter. Namun, mereka rela untuk korbankan waktu istirahat mereka hanya untuk datang ke rumah saya dan melihat keadaan ibu gurunya. Ingin menangis rasanya saya. Menangis haru dan bahagia disayangi mereka.

“Ibu, tadi Fitriani tidak piket kelas Bu!” ujar Arman kepada saya. Arman memang murid saya yang saya beri jabatan sebagai Bapak Menteri Lingkungan Hidup. Jadi, ia diberi tugas sebagai penjaga kebersihan dan pengawas petugas piket kelas. Jika ada siswa yang tidak piket kelas sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama, Arman bertugas mencatatnya dan melaporkannya kepada saya.

“Ibu, tadi kelas tidak ada yang ribut Bu Guru. Semuanya aman! Tidak ada yangmarocak! ”, ujar Alwi menyambung perkataan Arman. Dalam Bahasa Mandar,marocak artinya ribut.

Berbeda dengan Arman, Alwi memang saya tugaskan sebagai polisi kelas. Jadi, ia bertugas untuk mengamankan kelas, melerai perkelahian, menenangkan temannya yang menangis dan mencatat semua kejadian tersebut. Memang anak-anak yang saya ajar sangat senang menangis dan berkelahi. Namun setelah ada polisi kelas, tangis dan perkelahian di kelas jauh berkurang. Saya memilih Alwi karena ia anak yang paling senang berkelahi di kelas. Walaupun ia laki-laki, ia juga sering menangis. Oleh karena itu, saya menunjukknya sebagai polisi kelas agar ia perlahan-lahan berubah. Ternyata jabatan sebagai polisi kelas menjadi kehormatan baginya. Setelah peresmian pengangkatan jabatan hingga saat ini, anak laki-laki saya yang satu itu tidak pernah menangis dan berkelahi lagi. 
   
Saya tersenyum melihat tingkah laku mereka. Belum juga genap satu bulan, tetapi saya merasakan mereka menyayangi saya dengan tulus dan dalam.

Tidak hanya sampai di situ bukti sayang dan perhatian mereka kepada saya. Senin pagi, saya masuk ke kelas dan langsung melihat kotak peri. Kotak peri adalah kotak yang kami buat bersama-sama sebagai kotak yang menyimpan surat-surat. Surat-surat tersebut adalah surat-surat dari peri-peri. Peri-peri yang dimaksud adalah kami semua, warga kelas lima, termasuk juga saya. Jadi, masing-masing anak mempunyai satu kotak yang bertuliskan nama-nama mereka.

Kami menamakan kotak surat tersebut sebagai kotak peri karena surat-surat yang ditulis membantu kami untuk menjadi orang yang lebih baik. Jika ada teman yang bersikap tidak baik, temannya boleh mengingatkannya dengan cara menulis surat dan memasukkannya ke dalam kotak yang bertuliskan nama teman yang diingatkannnya tersebut. Jika ada teman yang membantu dalam hal apapun, ia boleh mengucapkan terima kasih melalui kotak peri tersebut. Permohonan maaf juga bisa dilakukan melalui kotak peri. Biasanya, sebelum pulang sekolah, saya memasukkan surat-surat dari saya ke masing-masing kotak peri anak-anak. Surat-surat tersebut berisi pujian untuk anak-anak yang telah menjadi anak manis hari itu atau berisi peringatan dan dorongan semangat berubah untuk anak-anak yang melanggar peraturan.

Hari itu, kotak peri saya begitu penuh. Surat-surat berjejal. Bergegas saya baca surat-surat dari mereka satu per satu.
Ibu guru aku di kelas lima, cepat sembuh ya...
Ibu, saya sangat suka diajar Ibu Guru Sakti. Cepat sembuh ibu guruku. Kami menunggumu..
Cepat sembuh dan mengajar lagi Ibu Guru Sakti. Jangan sakit karena kami mau diajar lagi sama Ibu Sakti..

Entah bagaimana rasanya saya detik itu. Saya begitu terharu. Rasanya saya ingin memeluk mereka satu per satu. Mengucapkan terima kasih dan mengatakan kepada mereka, “Ibu bahagia mempunyai kalian.”

Saat ini, saya tidak perlu menunggu hujan reda untuk menyaksikan indahnya pelangi. Oleh karena saat ini, selalu ada pelangi di kelas kami. Ya, anak-anak murid kelas lima dengan guratan warna-warnanya. Kasih dan ketulusan mereka benar-benar lukisan keindahan. Memang tidak terlihat secara kasat mata atau teraba dengan raga. Namun seperti kata Hellen keller, terkadang hal-hal terindah memang hanya bisa terasakan dengan hati.  


Limboro, 6 Desember 2010
Saktiana Dwi Hastuti



Indah sekali bukan kisahnya? Saat membacanya, saya merasa ingin menjadi guru saat itu juga---satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh saya. Anak-anak pedalaman itu benar-benar menginspirasikan saya, membuat saya melupakan kehidupan Jakarta yang glamor untuk sesaat. Mereka memang butuh pengajar bermutu, seperti Sakti dan Pengajar Muda yang lainnya. Semoga senyum dan harapan mereka dapat mengubah bangsa yang tengah bobrok ini. Semoga mereka dapat menjadi insan yang dapat mengharumkan bangsa kita. Semoga semangat mereka tetap terus ada di tengah gilanya dunia. Semoga.. 



You Might Also Like

5 comments

  1. wah dyah aku terharuuuuu :') jadi pengen jadi guru SD juga heheh tapi btw itu spupu kamunya juga org ny ada aja idenya ya, jadi murid2nya seneng, hehhe ada mentri polisi kitak peri .. wah hebat ! thumbs up !! ^^

    mampir ya dy ke blog akuuu hehehhehe

    ReplyDelete
  2. @bobi: aku juga sukaaa.. katanya pemandangan disana mirip pemandangan di new zealand (padahal kesana aja belum pernah). indah bangeeettt

    @deaz: i visit yours right here right now!! thx ya de! Sepupuku sebelum ke Majene memang udah dikarantina dulu, udah dibekali materi2 yang baik untuk dibawa kesana, hee

    ReplyDelete
  3. halo, sama kenal sulis, boleh tahu gak emailnya mba harni wijayanti, blognya yg ini http://harniwijayanti.blogspot.co.id/
    aku baca2 kisahnya ttg kista, dan pingin tanya ttg itu, cuma kontaknya g ada di blog, dan juga blognya udah gak aktif, boleh tahu, please, terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Hai Sara,

    beliau bisa dikontak di harniwijayanti@yahoo.com ya

    ReplyDelete