Beliau Hebat

12:46 PM

Ada yang beda hari ini. Jika tepat pukul 06.00 (bahkan kurang dari jam 6) saya sudah berada di kampus, kali ini saya sudah berada di SMA Diponegoro Rawamangun. Saya berdiri di trotoar, di seberang sekolah tersebut. Lalu saya melihat dosen tua penuh kharisma sangat bersemangat menyalami murid-murid sekolah tersebut. Pemandangan itu begitu asing buat saya, namun saya sangat menginginkannya. Kejadian itu mentransportasikan pikiran saya ke masa empat tahun silam, masa SMA. Tak ada guru-guru saya yang repot-repot menunggu murid-muridnya di depan pintu gerbang sekolah, menyalaminya dan memberinya senyum. Kadang kami datang lebih awal dari mereka. Hanya guru yang mencintai kedisiplinan yang datang lebih awal untuk memberikan hukuman bagi siswa-siswa yang terlambat. Pikiran saya kembali lagi ke tempat dimana saya berada. Saya terharu dan sangat menginginkannya. Andai dulu saya mendapatkan perlakuan seperti itu, saya pasti lebih semangat ke sekolah.

Ah, Pak Arief, beliaulah dosen kebanggaan saya (atau mungkin juga dosen kebanggaan semua mahasiswa yang pernah diajarnya), dosen yang selalu menyalami murid-muridnya di sekolah yang dibinanya, dosen yang selalu memberikan materi kuliah yang sangat masuk-ke-otak dan komunikatif, dan dosen yang membuat saya merasa bersyukur telah kuliah di UNJ.

Terlepas dari itu semua, kedatangan saya ke SMA Diponegoro bukan semata-mata memandangi pemandangan yang menggugah hati maupun mengajar, namun demi memenuhi ajakan Pak Arief untuk survey tempat pementasan seni. Lagi dan lagi, tak ada dosen yang seperhatian beliau. Bayangkan saja, demi kemajuan mahasiswanya dalam apresiasi seni, beliau menginginkan kami mengadakan suatu pentas yang bukan sembarang pentas. Lalu, beliau mencari tempat pementasan yang benar-benar pas (pas dengan kondisi keuangan kami, pas dengan seni yang akan kami pentaskan, dan pas dengan segala-galanya) yaitu aula Labschool. Ketika saya dan teman-teman saya memasuki Labschool Rawamangun, kami ditanyai pihak keamanan setempat tentang keperluan kami. Dengan bangganya saya menjawab, "Kami mahasiswanya Pak Arief yang ingin mengadakan pementasan seni. Kata Pak Arief, kami dipersilahkan mengecek aula sekolah ini untuk dijadikan tempat pementasan kami."  Salah satu pihak keamanan memberitahu temannya yang menanyai kami bahwa kami dipersilahkan masuk ke dalam tanpa mengisi buku tamu. "Mahasiswa Pak Arief" katanya. Saya senang sekali.

Sesampainya di aula pertemuan Labschool, kami langsung jatuh cinta dengan penampilan fisik ruangan tersebut. Tak sebagus yang di Goethe Institute memang, tapi cukup "wew" untuk pementasan kami. Lalu Pak Arief memesan pengelola aula tersebut untuk memfasilitasi kami untuk pementasan. Kharisma beliau mampu membuat Pak Dadang (nama pengelola aula tersebut) berkata "Baik, Pak." Selain itu beliau juga mendatangkan Bu Arinda (kalu tidak salah), staf UNJ yang bertanggung jawab atas Labschool. Menurut Bu Arinda, beliau sangat senang karena aula Labschool dipilih oleh kami untuk acara pementasan seni. Andai saja dosen kami bukan Pak Arief, pasti keadaannya sudah berbeda. Pak Arief juga akan mengundang kajur kami, seniman dari IKJ, orang tua kami, teman-teman kami, rekan-rekan penting beliau yang jumlahnya mencapai 300 undangan. Saya bertanya-tanya, mengapa beliau sebaik ini kepada mahasiswa biasa seperti kami, mahasiswa UNJ. Semoga Allah membalas kebaikannya.

Untuk saya yang tak pernah pentas di panggung dengan disaksikan 300 tamu undangan, ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Saya serasa menjadi mahasiswa sungguhan! Apalagi dua hari setelah kami mengadakan pementasan itu, kami akan pergi ke Bali untuk program KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Hidup menjadi mahasiwa tak pernah seindah ini rasanya. Asal kalian tahu, bukan hanya saya yang merasakan hal ini, teman-teman saya juga begitu.

Pak Arief Rahman, Anda sungguh hebat! Terimakasih telah membuat saya bersyukur kuliah di UNJ, Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. 



"Kalau kamu ditanyai seseorang tentang di mana kampusmu, jawab saja yang lantang tanpa malu-malu 'SAYA KULIAH DI IKIP! DI UNJ!'" -Pak Arief-




  


You Might Also Like

2 comments

  1. waktu baca bagian ini
    "Kalau kamu ditanyai seseorang tentang dimana kampusmu, jawab saja yang lantang tanpa malu-malu 'SAYA KULIAH DI IKIP! DI UNJ!'" -Pak Arief-
    aku merinding dii.
    setuju sama kamu, Pa Arif bikin kita tambah semangat kuliah di UNJ :D

    ReplyDelete
  2. eh rani, baru engeh kalo ada komen, hehee

    iya ran, semoga kita tambah semangat kuliah di UNJ yg suka kebanjiran, yg bangunannya awet tua sampe2 ada tanaman yg tumbuh di gentengnya, yg memberi hak dagang bagi para penjual di sekitar gedung O (sampe-sampe masuk ke kelas gue pas ada kuliah Pak Darya), dan yg lain-lainnya. =D

    ReplyDelete