Hancurnya Perisai Mimpi

12:31 PM

“Kita akan terkenal, Bay, terkenal!” teriaknya, kedua tangannya meremas pundakku yang bergetar hebat. Senyum lebar menghiasi wajahnya, tidak denganku.

Ryan terpana, aku berpikir. Demo musik ini selalu ditolak label-label musik, kurang sesuai selera pasar katanya. Kini musik yang tidak laku ini dipinang oleh suatu label musik dengan mahar yang menggiurkan. INI MIMPI.
***
Pertemuan dengan label dan calon produser selesai. Kami layaknya cendekiawan musik dengan temuannya, tak henti-hentinya pujian mengalir bagai sungai tak berhilir. Ini aneh, INI MIMPI. Bukan, Ryan bilang ini nyata. Kami keluar ruangan dengan hati berbunga-bunga (setidaknya itu yang dialami Ryan) menuju bagian teratas dari gedung ini untuk meluapkan kegembiraan kami. Aku masih bingung, sungguh. Aku selalu berpikir bahwa ragaku hidup dalam kenyataan sedangkan jiwaku hidup dalam mimpi yang dijaga oleh perisai ciptaanku—ia nyaman di sana.



Pikiranku berputar cepat, secepat nafasku dan Ryan setelah menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai puncak gedung. Udara kotor Jakarta memaksa masuk ke dalam hidung kami, ia ingin melepas rindu dengan paru-paru kami. Ryan berlutut, aku berada 10m di belakangnya.
“Ini seperti mim..pi.”
“Ini memang mimpi, sebentar lagi kita akan dihantam balok kenyataan oleh alam semesta. Bersiap-siaplah..”
Ryan menoleh ke arahku, kebingungan mengusir raut bahagia di wajahnya.
“Apa maksudmu? Kita telah berhasil meraih apa yang selama ini kita impikan, kita perjuangkan, bukan?”
“Bisa kau kesini sebentar?”
Ia bangkit dan berjalan ke arahku, masih menatapku.
“Tolong tinju perutku, kumohon..”



Ryan bingung, namun menangkap keseriusan dalam mataku, ia tahu bahwa aku benar-benar menginginkannya. Ia meninju perutku. Aneh, aku tidak merasakan tinjunya.
“Kau baik-baik saja?” Ryan terlihat khawatir.
“Bukankah sudah kubilang, ini mimpi. Cukup sudah aku bermimpi, akan ku hancurkan perisai ini.”
“Kau ini kenapa sih?”
Aku mengabaikannya dan berjalan hingga kuberhenti di ujung gedung.
“Hey Bayu, apa yang kau lakukan disana? Kau gila ya? Kau bisa mati tahu!”
“Sudah kubilang ini hanya mimpi. Aku adalah Bayu—angin―biarlah angin membawaku ke dunia nyata. Sudah lama aku menantikan ini. Sedikit hantaman akan membuatku sadar dari mimpi-mimpiku.”


Yang kurasakan selanjutnya adalah hantaman angin yang begitu kuat menerpa wajahku, disisipi teriakan Ryan yang memanggil namaku. Aku merasakan belaian aspal. Ini nyata, aku benar-benar sadar.



You Might Also Like

0 comments