Monday, October 12, 2009

Simple Sentence, Compound Sentence, and Complex sentence


-->Saya membuat judul di atas bukan semata-mata ingin menjelaskan kepada kalian apa itu simple sentence, compound sentence, dan complex sentence, melainkan ingin menjelaskan kebingungan saya dan teman-teman mengenai hal itu, =D
Kira-kira dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman sekelasku sedang mengikuti kelas English Grammar 3. Saat itu, kami disuruh mmpresentasikan hasil analisis kami mengenai topik tersebut pada suatu artikel di media cetak. Ada tiga kelompok yang maju pada saat itu. Dua kelompok pertama berhasil mempresentasikan hasil analisis mereka dengan lancar. Selanjutnya kelompok ketiga, yaitu saya, Iis, dan Astrid, maju. Awalnya sih lancar-lancar saja sampai pada saat sesi komentar berlangsung. Ince adalah pengomentar pertama. Dia mengomentari analisis kami pada satu paragraf:
“However, hilal is ultimately determined using the ru’yat method,” he said, or actually spotting hilal.

Dan analisis kelompok kami adalah:
If we change the indirect sentence above into a direct sentence (He said hilal however is ultimately determined using the ru’yat method.), we can conclude that it is a simple sentence because it has a finite verb; is ultimately determined.

Yang dikomentari Ince adalah kesalahan pada finite verb nya yaitu is ultimately determined. Seharusnya adalah said, namun selebihnya kalimat itu tetap merupakan simple sentence. Kami mengakui kesalahan analisis kami tentang hal tersebut. Nah, yang membuat presentasi kelompok kami semakin menarik, seru, dan penuh pertanyaan + perdebatan terjadi setelah Afdal, teman sekelas saya yang tergila-gila dengan kerajaan namun sangat paham mengenai grammar dibandingkan teman-temanku yang lain, memberi kami komentar. Inilah komentarnya (tadinya dalam bahasa Inggris, tapi sudah saya jerjemahkan):
“Tadi kalian bilang bahwa kalimat tersebut adalah simple sentence. Namun menurut saya kalimat tersebut termasuk complex sentence karena kalimat dalam kutipan tersebut merupakan penjabaran dari kata kerja said, dan itu termasuk noun clause. Ciri dari complex sentence adalah bahwa kalimat tersebut mempunyai dependent clause dan independent clause. Nah, noun clause dalam kalimat tak langsung itu adalah bagian dari dependent clause.”

Sieisi kelas tampak bingung dengan penjelasan Afdal, dosen saya tampak berpikir mengngguk-angguk, dan sayapun yang mengerti apa yang ia katakan cepat-cepat menanggapi komentarnya dengan menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Inilah tanggapan saya:
“Saya mengerti apa yang kamu bicarakan. Tapi tetap saja, menurut kami kalimat tersebut adalah simple sentence. Alasan tersebut kami berikan karena kami melihat contoh simple sentence dari kertas fotokopian EG3 kita, yang saya yakin kalian juga punya. Coba kalian lihat contoh simple sentence yang tertera pada kertas fotokopian itu (lalu aku membacanya keras-keras: I saw him walking to school this morning and looking keen to get there and start work). Lalu aku menjelaskan bahwa finite verb yang ada pada kalimat tersebut adalah saw, sama seperti yang dikatakan oleh fotokopian tersebut. Kata kerja seperti looking, to get, dan start adalah bukan finite verb. Selain itu, kalimat penjabaran setelah him sama seperti kasus kalimat yang sedang kita perdebatkan, yaitu kalimat penjabaran setelah kata kerja said.”

Setelah itu. Afdal Nampak kurang puas, dosen saya pun keluar sejenak karena ada panggilan telpon. Ince, salah satu sahabat saya (dan orang yang mengikuti metode analisis saya untuk menganalis simple, compound, dan complex sentence dalam kalimat berkutip dengan cara mengubahnya menjadi kalimat tak langsung), menyutujui pendapat saya, Iis, dan Astrid. Lalu ia maju untuk menulis perbandingan contoh kalimat yang ada di fotokopian dan kalimat yang kami analisis. Dosen saya pun masuk kembali ke dalam kelas usai bertelepon. Inilah yang Ince tulis:
I saw him walking to school this morning and looking keen to get there and start work.


Dan membandingkannya dengan:

He said hilal however is ultimately determined using the ru’yat method.

Dia menggaris bawahi kemiripan struktur kalimat tersebut dan menjelaskan ulang apa yang saya ucapkan. Sekarang sebagian kelas terpecah, ada yang sependapat dengan Afdal dan ada juga yang sependapat dengan kelompok saya dan Ince (namun minim). Dosen saya pun meminta pendapat salah satu repeater di kelas kami, tapi saya lupa namanya. Sebut saja H (kalau tidak salah huruf depan namanya adalah H). Dia tampak bingung juga. Katanya:
“Hmm, saya juga bingung sih Mam setelah mendengar penjelasan mereka. Jika kita menganalisis kalimat tersebut seperti yang Afdal jelaskan, saya sependapat dengan Afdal kalau kalimat ini merupakan complex sentence. Tapi apa yang dikatakan Dyah dan Ince, secara tidak sengaja, ada benarnya juga jika kita menganalisisnya dari sudut pandang Functional Grammar.”

Nah lho, saya dan teman-teman sekelas saya bingung dan bertanya-tanya apa itu Functional Grammar. Lalu sang dosen memperkenankan H untuk maju dan menjelaskan. Dia menambahi garis bawah yang ditandai Ince menjadi:
He said hilal however is ultimately determined using the ru’yat method.
S    V Verbal Process

Lalu ia menjelaskan:
“Jadi begini, dalam teori Functional Grammar, yang menjadi main clause nya adalah he said. Selanjutnya hanyalah supporting clause saja. Dan tentu saja kata kerja said adalah finite verb nya sementara is ultimately determined adalah verbal process. Jadi, kalimat ini adalah simple sentence.”

Lalu dosen saya tampak setuju dengan penjelasan si H dan ia menjelaskan bahwa kalimat tersebut termasuk simple sentence jika dilihatdari sisi Functional Grammar. Lalu teman saya yang senang sekali berargumen, Hana, bertanya ke dosen saya:
“Kalau begitu, kenapa kalimat langsung itu diubah menjadi tak langsung? Padahal tanpa mengubahnya pun kita bisa lihat bahwa itu adalah simple sentence dengan memperhatikan clausa he said.”

Lalu dosen saya menjawab pertanyaannya. Namun biar saya sela dahulu mengapa saya mengubah kalimat itu menjadi kalimat tak langsung. Tujuan saya mengubah kalimat itu adalah agar mudah menganalisa kalimat tersebut. Nah, seperti yang saya bilang sebelumnya, Ince meniru metode analisis saya itu. Dan saat ia presentasi, dosen saya setuju-setuju saja kalau kalimatnya diubah agar memudahkan dia menganalisa kalimat dalam suatu artikel. Namun, setelah mendengar pertanyaan Hana tentang pengubahan itu, beliau dengan mudahnya menjawab:
“Ya, kamu memang benar. Sebaiknya dan untuk selanjutnya, kalimat itu tidak perlu diubah-ubah strukturnya karena akan menjadi rancu. Tapi, kita kan belajar dari pengalaman ya, jadi hal-hal seperti itu akan membantu kita mengerti dalam pembelajaran-pembelajaran selanjutnya.

Sungguh omongan yang plin-plan menurut saya. Sebenarnya, setelah perkataan dosen saya itu, si Afdal tetap berpendapat bahwa itu adalah complex sentence karena kalimat itu mempunyai independent clause dan dependent clause. Seorang repeater yang lain pun setuju dengannya. Lalu teman-teman saya yang lain tampak bingung dan menanyakan jawaban yang benar kepada dosen saya. Namun apa yang beliau jawab? Inilah jawabannya:
“Kalian tanya pendapat saya? Hmm, saya sih tidak ingin memberi kesimpulan dalam kasus ini karena dengan begitu hal itu dapat menghentikan kalian mencari kebenaran lain. Kalau saya bilang kalimat itu adalah simple sentence atau complex sentence, kalian pasti berhenti mencari kebenaran yang lain dan saya tidak mau itu. Untuk sementara ini kesimpulannya adalah kalimat itu merupakan simple sentence. Tapi mungkin saja bisa berubah seiring teori-teori yang bermunculan.”

Teman-teman tampak kurang puas. Lalu teman saya Christy, menyela omangan dosen saya:
“Lalu Mam, bagaimana kita bisa memastikan suatu kalimat adalah simple, compound, atau complex sentence? Kami butuh kepastian dari Mam supaya saat ujian kami bisa mengerjakannya dengan baik dan benar. Kalau saja jawaban kita beda dengan pendapat Mam, bisa-bisa nanti nilai kita dapat E Mam.”
Anak-anak yang lain tampak setuju. Lalu beliau balas menjawab:
“Kalian tidak usah memikirkan tentang masalah itu saat ujian, memangnya saya akan menguji kalian tentang teori?”
Lalu anak-anak yang lain balas menjawab:
“Yaa Mam, untuk jaga-jaga saja. Kami kan ingin yang terbaik Mam.”

Sementara yang lain berargumen, saya, Iis, Astrid, dan Ince diam berdiri di depan menikmati perdebatan itu. Lalu tiba-tiba Afdal berbicara kata-kata yang jarang sekali ia katakan:
“Baiklah Mam, mungkin Mam benar. Tapi saya akan mencari bukti yang lebih banyak lagi bahwa kalimat berkutip dan mengandung noun clause termasuk complex sentence.”

Kelas berdurasi 90 menit itu berakhir dengan gerutuan teman-teman saya akan ketidakpuasan cara mengajar dosen saya itu. Mereka, termasuk saya, berpendapat seharusnya dosen bisa memberikan panduan kepada mahasiswanya dalam mempelajari sesuatu sehingga kami tidak seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Namun, kadang-kadang apa yang dikatakan dosen saya itu ada benarnya juga.

Keesokan harinya, Afdal dengan semangat memberitahu kami tentang bukti yang ia dapatkan bahwa kalimat berkutip itu termasuk complex sentence. Raut wajahnya seperti raja yang baru saja memenangkan peperangan. Dia menjelaskan dan menyebutkan bahwa bukti itu bisa kami dapatkan di buku Betty Azar dan Marcela Frank berikut halamannya. Teman saya, Indra, sampai bingung darimana dia mengetahui dan hafal halaman per halaman buku-buku itu (sebenarnya sih buku-buku itu sudah menjadi buku pedoman kami dalam mempelajari EG1 dan EG2. Tapi berhubung Indra pay less attention about those things, yaa wajar aja :). Selain itu Afdal juga memberi bukti lain dari internet. Kalau dipikir-pikir, Afdal itu mirip sekali dengan tokoh Hermione dalam serial Harry Potter, hehe..

Belum puas dengan jawabannya Afdal, teman-teman saya mencari dosen EG1 kami sewaktu semester 1, dan beliau pun beranggapan yang sama. Namun, sepertinya beliau juga agak sangsi dengan jawaban beliau (beliau baru bergelar S.S. dan sedang menjalani kuliah S2 nya). Ternyata pertanyaan kami membuat beliau cukup penasaran dan memberi jawabannya kepada kami keesokan harinya.

Semenjak diskusi hebat itu, saya dan teman-teman saya beranggapan bahwa kalimat berkutip termasuk kalimat kompleks. Lalu aku iseng-iseng membaca fotokopian materi yang kami perdebatkan itu. Ternyata, setelah penjelasan materi di kertas itu, sang penulis menambahkan note di bawahnya:
Note: if you find it impossible to remember the meaning of Simple, Compound, Complex, finite, and clause, do not worry. Tou will be able to speak and write good English without knowing about these terms although a knowledge of them may be helpful in an examination.

Saya  langsung tertawa membaca note itu. Lalu saya tunjukan ke mereka dan tertawalah kami. Jadi seharusnya kami tidak perlu memperdebatkan hal itu terlalu dalam karena tanpa tahu materi itupun toh kami masih bisa berbicara bahasa Inggris. Tapi berhubung kami adalah mahasiswa yang penuh rasa penasaran, jadi itu wajar saja hehe.. (narsis)

3 comments: