Tuesday, June 27, 2017

Oddception

"You laugh so hard over small things. I just notice that," my mentor once said. His words got me to a question, "Do I?"

In other occasions, my co-workers asked me with wonder when I was overwhelmed by the free mustard greens. "Why are you so excited over mustard greens?" (Well, actually the greens was so beautiful with its mustard flowers so I couldn't resist the excitement).

Others even joked, "Maybe the next time a guy hits on you, he should bring you a bunch of mustard greens."

Whatever.

So many moments I share with my work mates, most of them are when we laugh together, most most of them are when we laugh at my odd reaction over something. I don't know exactly whether they bring out the odd in me, or it's me odding their apparently-quite-quirky life.

Oh, now it even sounds so oddception.


Sunday, May 14, 2017

Four Good Lines


She was my intern and (why) she is sweet when she's gone. Oh girl, you don't have any idea about the hardship I'm going through. But there you are, praying for my well being. Four good lines are received. And for you, I have five.


Hope Korea treats you well, 
just like I believe it does.
You are good girl, 
goodness tails you everywhere, 
Insha Allah.

Sunday, March 12, 2017

Familiar Stranger

Do you happen to see some strangers who are somehow familiar to you? They are familiar in a way you pass them by like five or ten times. Every time you bump into each other, you both just throw regular look. But then you realize the look is not that regular either. It's like that one look which says, "Okay, we see each other quite often." The look which talks--something like that.

But oddly, you cannot remember the face of the stranger you met, regardless how frequent you both bump into each other. You only know it is "that person" once you both meet again. Except for map, I usually remember things or persons well. But it does not apply to this case. So, I find it very funny.

So, how should I put it? There is a stranger who is not stranger in any ways. That person is still a stranger because you do not know that person personally, nor you remember that person's face. But, the title "stranger" is gone once you both meet. The regular look you both throw somehow becomes familiar.

Familiar stranger, this case is getting interesting.

Saturday, March 11, 2017

Curahan Hati Pemakai Kacamata

Semua ini bermula dari sebuah kacamata. Kalau dirunut-runut, kacamata itu sudah melengkapi hidup saya selama, well, sebelas tahun. Saya ingat persis pertama kali pakai kacamata itu kelas dua SMA dengan keluhan minus satu di masing-masing mata. Kalau dingat-ingat lagi, selama sebelas tahun itu, saya sudah mengganti kacamata kira-kira sebanyak tujuh kali. Biasa, keseringan patah terinjak. Dari ketujuh kacamata itu, yang paling lama bertahan adalah kacamata yang baru saya ganti (yang itu lah pokoknya). Bayangin, dua tahun sembilan bulan kami bertahan. Dan sekarang kondisi fisiknya juga masih oke. Alasan ganti kacamata karena mata saya yang kian rapuh dan butuh lensa yang lebih menguatkan daya pandang (ini apa banget bahasanya).

Lalu sebenarnya poin dari postingan ini apa?

Guys, terutama kalian yang lebih memilih menggunakan kacamata dibandingkan contact lens, apakah kalian merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan selama ini? Perasaan yang selalu menghantui pemakai kacamata di mana pun dan kapan pun segagang kacamata bertengger di wajah pemakainya. Perasaan yang hanya kita, pemakai kacamata, yang tahu. Iya, perasaan itu. Saya beberkan ya, biar kita tidak saling menebak-nebak dalam bisu layar kaca komputer.


Berperang Melawan Uap

Bagi kita yang jarang melepaskan bingkai kacamata dari wajah, uap ini musuh terbesar banget tidak sih? Saya selalu punya masalah dengan ini. Misalnya pas mengenakan masker. Kalau lagi pakai masker kan setengah muka kita tertutup ya, termasuk hidung. Lalu karbondioksida yang biasa dihembuskan tanpa hambatan, tetiba harus tertahan kain masker. Otomatis hembusan napas itu terlepas ke bagian atas, mengarah ke kacamata. Nah kalau sudah seperti ini, dua lensa kacamata itu jadi blur karena terkena uap napas sendiri. Ini kalau lagi naik motor atau sekadar jalan jadi sangat mengganggu.

Makanya, saya seringkali tidak menutup bagian hidung saya dengan masker agar uap napas tidak membuat lensa berembun. Kadang kalau dipikir-pikir, percuma juga pakai masker tapi tidak menutupi bagian hidung. Atau, kadang saya mengakalinya dengan memakai masker secara rapat terlebih dahulu sebelum memakai kacamata. Cara ini cukup mengurangi uap yang tertimbun di kacamata. Saya suka senyum-senyum sendiri kalau bertemu orang berkacamata dan memakai masker yang tidak menutupi hidungnya. Ah, orang ini punya problem yang sama dengan saya ternyata, hahaha.

Masalah uap itu juga sering muncul pas makan makanan berkuah. Are you with me, glasses ladies and gents? Cobalah makan indomie rebus, bakso, soto ayam, dan sebagainya. Di suapan pertama, uap langsung mengepul di lensa, tidak peduli semahal apa lensa yang dipakai. Lensa sudah seperti terkena efek bokeh. Kalau lensanya UV protected, biasanya uapnya hilang dalam waktu dua detik. Masalah datang lagi ketika kacamatanya suka terkena cipratan kuah makanan. Belum lagi kalau makanannya pedas dan membuat peluh keringat dan air mata keluar begitu saja. Imbasnya mata jadi berkaca-kaca dan membahasi kacamata. Kombinasi uap dan air mata ini yang ganggu banget. Alhasil, setiap mau makan tuh pasti lepas kacamata dulu, baru bisa makan dengan tenang. Walaupun...memandang teman makannya jadi buram. Haah, tapi hidup itu pilihan kan ya.


Berperang Melawan Air Hujan

Nah ini. Sampai saat ini saya belum menemukan solusinya. Kalau sedang berada di area terbuka dan hujan, saya hanya bisa pasrah. Rasanya tuh apa ya...seperti melihat kaca depan mobil yang diguyur air hujan dan penyeka kacanya (windscreen wiper) mati. Parahnya kalau lagi mengendarai sepeda atau motor. Sambil pegang setir, saya suka mengkhayal kapan ya kacamata ada windscreen wipernya.

Di situasi seperti itu, saya dihadapkan dua pilihan. Kalau pakai kacamata, pandangan jelas walaupun terhalang air hujan di lensa. Kalau lepas kacamata, dunia menjadi buram. Kalau dunia buram, keselamatan pun terancam. Jadi mending tetap pakai kacamata ketika mengendarai, sambil sesekali menyeka lensa secara manual. Hiks.


Berperang Melawan Air Mata

Ini sub judulnya apa banget ya, tapi itulah yang saya rasakan. Kalau lagi menonton film yang mengubek-ubek isi hati, menangis itu menjadi sebuah keniscayaan. Kalau menontonnya tanpa bantuan kacamata sih enak ya, sekali menangis, langsung usap. Sekali berkaca-kaca, langsung usap. Nah kalau menontonnya pakai bantuan kacamata, ini cukup mengganggu kekhidmatan dalam menonton, sob.

Mata berkaca-kaca, maka pandangan jadi blur. Air mata keluar, pandangan tambah blur. Mau usap, buka kacamata dulu. Kalau males buka kacamata, itu air mata nempel di lensa. Menonton pun tak lagi khidmat. Jadi kalau satu film isinya menguras hati dari awal sampai akhir, bisa dibayangkan seberapa tinggi frekuensi nangis-buka kacamata-usap airmata selama film diputar.


Ketika Garis Miring Hidungmu Kurang Dari 45 Derajat

Ini perjuangan banget. Seperti yang kalian tahu, kacamata itu rata-rata diproduksi untuk hidung dengan garis kemiringan 45 derajat atau semancung hidungnya Chris Evans. Dengan garis kemiringan seperti itu, bingkai kacamata akan kokoh bertengger. Bagaimana dengan hidung dengan garis kemiringan di bawah 45 derajat? The struggle is real, pals.

Bisa dikatakan, garis miring hidung saya itu sekitar 30 derajat. Dengan garis miring yang landai ini, bingkai kacamata sering merosot. Apalagi kalau kacamatanya tidak seerat yang seharusnya. Maksudnya, tidak pas banget di wajah. Lima menit sekali pasti bingkai kacamata merosot, macam profesor-profesor itu. Kalau sudah merosot begitu, kadang saya harus mendongakkan wajah untuk melihat atau menaikkan bingkainya ke posisi semula. Pernah waktu menunduk, kacamata jatuh begitu saja. Memang kacamatanya juga sih yang sudah kendor, ahahaa.

Alhamdulillah, kacamata saya sekarang begitu memahami kontur garis miring hidung dan wajah saya. Pas banget, sob. Mau menunduk sambil jungkir balik juga InsyaAllah masih bertengger di wajah.


Rindu Mata Normal

Ada momen-momen di mana saya melakukan kegiatan tanpa kacamata, entah itu ketika memasak, menonton, atau pun berjalan di sekitar perumahan. Dunia tanpa kacamata itu sungguh blur. Ketika melihat-lihat beberapa tempat di sekitar rumah, saya suka mengingat-ingat kembali bagaimana belasan tahun lalu tempat itu begitu jelas dipandang. Tanpa kacamata, semuanya begitu jelas. Atau misalnya ketika kuliah. Saat itu minus mata masih terbilang kecil. Menatap layar komputer tidak perlu memakai kacamata. Hanya ketika untuk melihat papan tulis saja, baru kacamata itu digunakan.

Kalau sedang berkenang ria seperti itu, jadi rindu punya mata normal. Nikmat sehat yang paripurna memang baru dihargai ketika kita sudah tidak memiliki itu lagi ya. But overall, it's good knowing my eyes still work just fine, regardless the myopia. Satu hal yang patut disyukuri, bukan?

Sunday, February 26, 2017

The Resonating Verse

And those who strive for Us, We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good. - Al-Ankabut:69

I love this verse, and it's nice to have a friend who shared this lovable verse. It resonates with so many questions in mind. Sometimes I ask whether I really strive for Them, whether I'm in Their exact ways, and whether I'm one of those doers of good.